Home / Bioteknologi / Zat Pewarna Karmin
Zat Pewarna Karmin
Zat pewarna Karmin yang telah siap proses

Zat Pewarna Karmin

Makanan hasil olahan perlu diberi zat pewarna, karena warna sangat mempengaruhi cita rasa makanan. Reading University, Reading, Berkshire, Inggris, mengadakan suatu penelitian tentang pengalengan kacang polong dengan menggunakan dan tanpa menggunakan zat pewarna. Kacang polong yang tanpa zat pewarna, dalam proses pengalengan akan berubar warnanya menjadi pudar. Para responden cenderung memilih kacang polong dengan zat pewarna (hijau), karena zat pewarna memberikan warna hijau yang segar, sehingga menarik selera. Orang tidak akan suka minum minuman jeruk yang berwarna putih atau biru, karena dalam persepsi otak manusia, jeruk selalu berwarna kuning oranye. Agar anggur putih disukai konsumen, maka anggur tersebut diberi zat pewarna yang berasal dari ekstrak kulit anggur ungu.


Zat warna untuk tekstil sangat dilarang dipakai untuk makanan, meski di Indonesia, hal tersebut masih sering terjadi. Mengonsumsi zat pewarna tekstil pada makanan dapat menyebabkan gejala keracunan bahkan dalam jangka waktu yang lama dapat menyebabkan gangguan kanker.
Zat pewarna untuk makanan masuk dalam Daftar Warna E. Zat warna tersebut sebagian besar berasal dari bahan alami. Ekstrak kulit buah anggur, kubis ungu, dan lain-lain adalah zat pewarna alami yang sering dipakai.
Untuk mempengaruhi selera konsumen terhadap sosis dan daging olahan harus diberi zat pewarna merah. Tahukan Anda dari mana zat pewarna merah tersebut berasal?
Zat pewarna merah Karmin adalah zat pewarna seri E 120. Zat pewarna tersebut dihasilkan dari negara Peru, Spanyol, dan Ghana, yang berasal dari kutu daun (Dactylopius coccus) subordo Sternorrhyncha yang diternakkan pada kaktus genus Opuntia. Tubuh kutu tersebut telah diproses oleh bangsa Inca dan Aztec digunakan sebagai zat pewarna sejak abad ke 14. Harga zat pewarna tersebut setara dengan harga emas. Diperlukan sekitar 150.000 kutu untuk menghasilkan satu kilogram zat pewarna.
Kutu betina yang sudah dewasa dipanen, kemudian dijemur di bawah sinar matahari agar kutu mati. kemudian kutu-kutu tersebut ditampi agar bulu-bulunya terpisah.

Keterangan gambar: A. Kaktus genus Opuntia;  B. Dactylopius coccus betina; C. telur

Keterangan gambar: A. Kaktus genus Opuntia; B. Dactylopius coccus betina; C. telur

Kutu mati yang keras tersebut kemudian dihancurkan, dipanaskan pada suhu 250oC , kemudian diberi asam karminat dan garam aluminium. Tahapan terakhir disaring, dan jadilah zat warna Karmin. Jadi bila Anda makan daging olahan atau sosis yang enak rasanya, atau bagi kaum perempuan yang memakai lipstik berwarna merah, jangan lupa bahwa zat pewarnanya berasal dari ‘darah’ kutu Dactylopius coccus [].

Martanto Martosupono. Dari berbagai sumber.

 

About dhanang

Membuat ilmu kehidupan menjadi hidup lebih hidup

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Scroll To Top