Home / Di Ruang Kelas / Catatan Kaki Seorang Guru SD di Kepulauan Raja Ampat
Catatan Kaki Seorang Guru SD di Kepulauan Raja Ampat
Rapat bersama dewan guru SMAN. 4 Raja Ampat.

Catatan Kaki Seorang Guru SD di Kepulauan Raja Ampat

Awal menjadi guru

Sejak tahun 1985, tepatnya tanggal 1 Oktober, saya di angkat menjadi seorang guru SD, dengan pangkat pengatur muda II/a, hanya bermodalkan selembar ijazah SPG. Penempatanku pertama kali sebagai seorang guru sekolah dasar pada SD negeri 9 Lilinta.Tahun 1989 saya mendapat kepercayaan dari pemerintah (Dinas Pendidikan), Kab.Sorong untuk memimpin sekolah itu. Dengan modal pengetahuan manajemen kepemimpinan pas-pasan yang ku miliki, saya mencoba untuk menerima kepercayaan itu.

Kurang lebih 13 tahun menjadi kepala SD, tanggal 1 september 2002, saya mendapat tugas belajar ke Uncen Jayapura, tepatnya FKIP, program studi Biologi. Pada bulan Oktober 2005 saya telah menyelesaikan S1 ku. Sebelum ke Uncen tahun 1997 sampai 2000, saya mengikuti program penyetaraan guru sekolah dasar (PGSD) pada Universitas Terbuka, UPBJJ (Unit Pelayanan Belajar Jarak Jauh) Jayapura.

Tahun ajaran 2007/2008, saya mendapat kepercayaan dari kepala Dinas pendidikan kabupaten Raja Ampat, untuk merintis berdirinya SMP Persiapan dan sekaligus menjadi kepala sekolah. Tahun 2009, sekolah tersebut berubah status menjadi SMP Negeri 18 Raja Ampat, di Dabatan ibu kota Distrik Misool Selatan, berdasarkan keputusan Bupati Raja Ampat.

Tepatnya 1 Juli 2011, saya di mutasikan menjadi kepala SMA Negeri 4 Raja Ampat, tepatnya di kampung Lilinta distrik Misool Barat. Kampung adalah dimana saya bertugas pertama kali sebagai guru. Tahun 2012, bersama teman-teman berjumlah 22 guru, mendapat kepercayaan dari pemerintah Kabupaten Raja Ampat, untuk mengikuti program pascasarjana pada Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga, tepatnya program Magister Biologi (MB).

Pulang ke Papua

Setelah 5 bulan mengikuti program Pascasarjana di kota Salatiga, tepatnya Program Studi Magister Biologi (MBUKSW). Waktu 5 bulan berjalan terlalu cepat, ingin berlama-lama mau menuntut ilmu di tanah jawa, namun saya menyadari diri saya bahwa selain menuntut ilmu, saya juga mempunyai tanggung jawab di daerah sebagai seorang kepala sekolah, tepatnya SMA Negeri 4 Raja Ampat.

Bersama pak Peter Komboy di ruang tunggu Bandara Internasional Hasanuddin Makssar.

Bersama pak Peter Komboy di ruang tunggu Bandara Internasional Hasanuddin Makssar.

7 Maret 2013, tepatnya hari Kamis adalah hari terakhir saya meninggalkan kota Salatiga melalui Bandar udara Adisucipto Yogyakarta untuk menuju tanah Papua. . Setelah melewati 2 jam penerbangan dari Makassar, akhirnya, tiba di Bandar udara DEO (Deminiq Edward Osok) kota Sorong . Saya bergegas, keluar bandara menjumpai istri dan anakku tercinta (A.Latunussa dan Kevin Wihel), yang sudah lama menunggu, lalu kami langsung menuju ke rumahku tepatnya KPR Klasaman Moyo permai kota Sorong.

 

Perjalanan ke Lilinta
Setelah kurang lebih 2 minggu di kota Sorong dan Waisai, ibu kota kabupaten Raja Ampat, tepatnya hari jumat tanggal 22 Maret 2013, pukul 24.00 wit (malam). Saya bertolak dari pelabuhan rakyat kota Sorong melanjutkan perjalanan dengan kapal motor; Fajar Indah’ menuju tempat tugas, menempuh waktu kurang lebih 7 jam.

Jam 7 pagi, hari sabtu kami tiba di pelabuhan tiga lima ( nama dari salah satu lokasi PT.Yellu Mutiara ), perusahaan mutiara terbesar di Propivinsi Papua Barat. Satu jam kemudia kapal bertolak ke pelabuhan tujuan saya adalah pelabuhan Fafanlap. Dari pelabuhan Fafanlap saya menempuh perjalanan kurang lebih 1 jam dengan perahu motor tempel 40 pk, yang telah disiapkan oleh pak afan (wakasek), menuju SMAN.4 Raja Ampat, tepatnya kampung Lilinta ibu kota Distrik Misool Barat.

Pulau Misool adalah salah satu dari 4 pulau besar yang ada di Kabupaten Raja Ampat, Dahulu pulau Misool di perintah oleh 4 tokoh adat ( kepala pemerintah) yaitu antara lain: 1. Raja Lilinta, 2. Jojau Gamta, 3. Jojau Waigama dan 4. Kapitan Laut Fafanlap.(sewaktu pemerintahan kolonial Belanda). Dibawah pemerintah Kab.Raja Ampat, Pulau Misool terdapat 6 distrik dan 30 kampung, salah satu kampong yakni Lilinta ibu kota distrik adalah tempat tugasku sekarang.

Menuju ke Sekolah
Jam 7 pagi sebagai mana biasanya, saya bergegas berangkat ke sekolah, di sepanjang jalan menuju sekolah orang tua murid menyapa, sambil melontarkan pertanyaan; bapak sudah selesai kah ?, dengan spontan saya menjawab belum. Ya maklumlah, ada sebagian orang tua yang faham, dan ada juga yang tidak faham tentang proses perkuliahan.

Guru-guru dan siswa telah menunggu kehadiranku untuk memimpin upacara senin, merupakan rasa cinta tanah air dan bangsa, sebagai tanda syukur dan terima kasih kita atas perjuangan para pahlawan yang telah berjuang merebut kemerdekaan Indonesia. Dalam amanat Pembina upacar, singkat saya tekankan bagaimana generasi muda, khususnya anak didikku sekalian mengisi kemerdekaan ini ? jawabnya tak lain hanyalah; belajar, belajar, dan belajar. Kurang lebih satu jam, upacara bendera senin telah selesai dan proses belajar- mengajar berjalan sebagai mana biasanya.

Jam istirahat pertama, saya gunakan waktu itu untuk rapat (diskusi) dengan guru-guru membicarakan sejauh mana kesiapan anak-anak kelas XII, menghadapi Ujian Nasional 2013 yang nota bene terdiri dari 20 paket soal.
Untuk menghadapi 20 paket soal, maka kesempatan itu saya perintahkan bapak/ibu guru untuk melaksanakan les tambahan khusus pelajaran yang di un.kan, les tambahan fokus pada kisi-kisi UN SMA 2013 yang telah di keluarkan oleh diknas, walaupun saya tahu les tambahan sudah dilaksanakan sebelumnya oleh bapak/ibu guru.

UN (ujian nasional), yang ditetapkan oleh pemerintah selalu membuat resah orang tua siswa, bahkan tidak sadar orang tua siswa melontarkan pertanyaan kepadaku bahkan guru-guru lainnya; “apakah anak saya bisa lulus un tahun ini pak guru ?” jawabku singkat saja, “tanyakan pada anak bapak/ibu, bila anak bapak/ibu menyiapakan diri dengan baik selama ini, jelas pasti lulus, tapi sebaliknya bagi yang tidak siap pasti akan gagal”.

Kerja keras dari seorang guru selama 3 tahun, bila dihargai itu dengan baik oleh anak-anak didiknya, pasti tidak merasa takut atau stres menghadapi UN. Sebaliknya yang tidak siap diri, ya pastilah menghadapi un dengan rasa takut dan stress pula. Perjuangan 3 tahun di sekolah, hanya di tentukan dalam 4 hari mengikuti ujian nasional.

Untuk mencari kwalitas mutu ujian ataupun mutu siswa, saya sarankan agar kita semua menengok kebelakang, di tahun 1985 pemerintah telah menetapkan sebuah istilah yang mirip-mirip dengan ujian nasional, yakni Nilai Ebtanas Murni (NEM). NEM merupakan nilai patokan bagi seorang anak didik untuk bisa melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi.

Fungsi dari NEM adalah untuk digunakan sewaktu mendaftar ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, baik SD ke SMP, maupun SMP ke SMA, sedangkan untuk keberhasilan/kelulusan, pemerintah menyerahkan penuh kepada satuan pendidikan (sekolah) dengan menggunakan rumus : P + Q + 2P / 4, artinya: P = rata-rata nilai semester, Q = nilai ujian sekolah (UAS), dan 2P = nilai UN. Dari jumlah ke tiga unsur tersebut, lalu dibagikan dengan 4, dan akhirnya memperoleh Nilai Akhir, dan Nilai akhir itulah yang di tulis dalam STTB, bila anak didik dinyatakan lulus/ berhasil.[]

Abd.Manaf Wihel

About dhanang

Membuat ilmu kehidupan menjadi hidup lebih hidup

3 comments

  1. ferry f karwur

    Luar biasa

  2. salut pa kepala sekolah SMA N 4 R4, abang tra kosong. kk yang selalu ka…. kk punya pengalaman hidup dan karir yang luar biasa, semoga orang lain belajar sama kk tentang pengalaman hidup dan karir. maju terus abang ganteng….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Scroll To Top