Home / Pigmen / Pigmen Kehidupan: KLOROFIL
Pigmen Kehidupan: KLOROFIL
Hijaunya daun menandakan kehadiran klorofil.

Pigmen Kehidupan: KLOROFIL

Klorofil, hemoglobin dan kobalamin adalah tiga senyawa yang memiliki kemiripan pada struktur kimianya. Realita tersebut menyebabkan ketiganya juga memiliki kemiripan fungsi bagi kehidupan manusia, tumbuhan, dan hewan.

Klorofil dapat dikatakan sebagai darah tanaman. Senyawa bahan alam ini sangat berperan dalam proses fotosintesis tanaman dengan menyerap dan menggunakan energi cahaya matahari untuk mensintesis oksigen dan karbohidrat yang sangat dibutuhkan manusia dan hewan. Beberapa penelitian kimia juga telah membuktikan bahwa senyawa ini dapat digunakan dalam pengobatan berbagai macam penyakit.

Hemoglobin tak kalah pentingnya dengan klorofil, karena senyawa ini mampu memberikan kehidupan bagi manusia dan hewan. Hemoglobin mengalir di setiap pembuluh darah tubuh dan sangat berperan dalam proses metabolisme. Pigmen tubuh ini juga merupakan pelindung dari berbagai kerusakan dan masuknya zat-zat beracun.

 Kobalamin adalah salah satu vitamin yang cukup penting. Vitamin yang berwarna merah cerah ini adalah salah satu pigmen kehidupan yang diperlukan dalam proses pertumbuhan dan pembentukan sel darah merah. Tanpa kobalamin, maka pertumbuhan akan terhambat.

 Begitu pentingnya ketiga pigmen alami dalam menopang kehidupan, menjadikannya sebagai tiga senyawa yang sangat diperlukan dalam berbagai aktivitas di bumi. Oleh karena itu, keberadaannya harus tetap dijaga dan dikembangkan sehingga dapat berfungsi secara maksimal.

STRUKTUR KLOROFIL, HEMOGLOBIN, DAN KOBALAMIN

 Struktur dasar klorofil, hemoglobin, dan kobalamin adalah sama, yaitu sebuah cincin porpirin (Gambar 1) yang tersusun atas atom karbon, hidrogen, dan nitrogen dengan sebuah logam pada pusat porpirinnya.

Struktur porpirin

Struktur porpirin

Struktur klorofil terdiri dari 2 bagian, yaitu cincin komplek porpirin (bagian kepala) dan fitol (bagian ekor/rantai panjang hidrokarbon). Cincin porpirin merupakan suatu ligan dengan 4 atom nitrogen terikat kuat pada inti logam pada susunan planar, sedangkan rantai hidrokarbon/ekor fitol terikat pada cincin porpirin yang membuat klorofil bersifat larut dalam lemak dan tidak larut dalam air.

Fungsi porpirin adalah sebagai penangkap cahaya, sedangkan ekor fitol berfungsi untuk mengangkut klorofil menuju membran. Selain itu, cincin porpirin pada struktur klorofil juga berperan dalam memberikan warna hijau pada klorofil. Struktur hemin

dalam hemoglobin dan kobalamin juga memiliki cincin porpirin, sama seperti struktur klorofil. Perbedaan antara ketiga senyawa tersebut terletak pada pusat logamnya . Pusat logam klorofil adalah magnesium (Mg), pusat logam hemin adalah besi (Fe), sedangkan pusat logam kobalamin adalah kobalt (Co). Kemiripan struktur kimia dari ketiganya menyebabkan molekul-molekul tersebut mudah diterima dalam jaringan tubuh.

Struktur (a) klorofil, (b) hemoglobin, dan (c) kobalamin

Struktur (a) klorofil, (b) hemoglobin, dan (c) kobalamin

MANFAAT KLOROFIL

 Klorofil banyak dimanfaatkan pada berbagai bidang, di antaranya pada industri makanan dan minuman, obat-obatan, sensitizer sel surya, dan bioinsektisida. Klorofil juga digunakan sebagai pewarna pada beberapa industri rumah tangga, seperti: sabun, minyak dan lilin. Dalam bidang pengobatan, klorofil dikenal sebagai obat seribu satu penyakit, sebab senyawa ini memiliki kemampuan dalam mencegah maupun mengobati berbagai macam penyakit.

Menurut Sarkar, klorofil memiliki aktivitas sebagai antimutagenik. Klorofil juga dapat mengatasi penyakit kanker, jantung, aids, asma, diabetes, pneumonia, depresi, lepra serta kondisi-kondisi peradangan seperti arthritis, jerawat, radang tenggorokan, radang pankreas, gusi, dan iritasi lambung/usus. Klorofil bermanfaat untuk mengobati anemia, mencegah konstipasi dan peningkat daya tahan tubuh. Selain itu, klorofil juga berperan sebagai penguat dan penenang otak alami saat kadar asam nukleat dan asam amino pada klorofil dapat memenuhi kebutuhan otak akan protein. Kemampuan klorofil dalam mensintesis oksigen dan karbohidrat menjadikan klorofil sebagai sumber energi yang dibutuhkan oleh tubuh. Adanya klorofil dalam sayuran yang dikonsumsi, dapat mencegah pertumbuhan bakteri, meningkatkan sirkulasi organ-organ tubuh serta mencegah kanker. Pengambilan klorofil sebagai makanan juga dapat melancarkan peredaran darah, membantu penyerapan nutrisi, membersihkan sistem darah, menjaga keseimbangan asam-basa tubuh, mengurangi bau mulut, serta menjaga kesehatan sistem pencernaan.

Klorofil sebagai anti anemia

Dr. Richard Willstatter dan Dr. Hans Fisher telah berhasil mengidentifikasi fungsi sesungguhnya klorofil dan menjelaskan bahwa molekul klorofil memiliki kesamaan struktur dengan hemoglobin, yaitu pigmen merah dalam darah manusia. Kemiripan dalam struktur itu menimbulkan kemiripan fungsi kedua senyawa tersebut dalam tubuh. Atas penemuan mereka itu, keduanya mendapat hadiah nobel bidang pengobatan dan kimia pada tahun 1915 dan 1930. Kemiripan klorofil dengan hemoglobin juga menstimulir penelitian tentang pemanfaatan klorofil untuk kesehatan, terutama yang berkaitan dengan masalah darah. Hasil penelitian Kephart menunjukkan bahwa pemanfaatan klorofil pada penderita anemia memungkinkan usus kecil meningkatkan penyerapan unsur besi dari makanan, sehingga produksi sel darah merah meningkat.

 Klorofil meningkatkan imunitas

Selain dapat memicu pertumbuhan sel darah merah, klorofil juga dapat merangsang produksi sel-sel darah putih yang bertugas melawan serangan mikroorganisme penyebab penyakit, sehingga klorofil dapat berperan dalam meningkatkan daya tahan tubuh (imunitas). Kemampuan klorofil dalam memperkuat sistem kekebalan tubuh ini juga disebabkan oleh adanya pasokan antitumor dan antikuman untuk menghambat pertumbuhan bakteri, infeksi jamur, dan luka pada saluran pencernaan.

 Klorofil sebagai fotosensitizer dalam terapi fotodinamika

 Baru-baru ini dalam dunia terapi kanker, telah dikembangkan metode baru yaitu terapi fotodinamika tumor dan kanker (Photodynamic Therapy / PDT) yang aman dan ramah bagi tubuh pasien karena tidak bersifat racun bagi tubuh seperti halnya obat-obatan kimiawi lainnya yang umum digunakan untuk penyembuhan kanker. Metode ini memanfaatkan 3 faktor utama, yaitu fotosensitizer, cahaya dan oksigen. Pada pengaplikasiannya, fotosensitizer diinjeksikan dalam tubuh, kemudian diserap secara otomatis oleh seluruh sel. Fotosensitizer akan tinggal lebih lama dalam sel kanker tersebut dibandingkan keberadaannya dalam sel normal. Daerah sel kanker, selanjutnya diekspos dengan cahaya tampak pada panjang gelombang tertentu (630–800 nm) dan dengan intensitas tertentu pula. Waktu iradiasi berperan penting dalam menentukan kesuksesan penerapan teknologi ini. Waktu iradiasi ditentukan berdasarkan keadaan dimana fotosensitizer sudah tidak berada pada jaringan sel sehat dan hanya terakumulasi pada sel kanker. Fotosensitizer menyerap cahaya, kemudian tereksitasi pada keadaan singlet. Keadaan ini tidak berlangsung lama, fotosensitizer akan berubah ke keadaan triplet. Fotosensitizer dalam keadaan triplet ini akan bereaksi dengan oksigen yang terdapat dalam jaringan tubuh, termasuk dalam jaringan kanker. Oksigen dalam keadaan dasar akan tereksitasi menjadi singlet oksigen yang bersifat sangat reaktif dan dapat menghancurkan sel-sel kanker. Pada akhirnya, fotosensitizer akan kembali ke keadaan normal.

Klorofil dan turunannya merupakan fotosensitizer potensial yang mulai dikembangkan pada penyakit kanker, baik dalam pencegahan maupun pengobatan. Kekhasan molekul ini disebabkan oleh serapannya pada daerah tampak yang memenuhi persyaratan therapeutic window PDT serta struktur kimianya yang menyerupai hemin pada hemoglobin, sehingga molekul ini tidak asing bagi tubuh. Sebagai anti kanker, klorofil juga bertindak sebagai molekul interseptor dalam mencegah dan menghalangi aktivitas aflatoksin dan bahan karsinogen yang terdapat dalam makanan, seperti karsinogen makanan yang ditemukan pada daging urat (amin heterosiklik), daging panggang/asap (hidrokarbon polisiklik), dan jamur kacang (aflatoksin).

Klorofil sebagai anti proteolitik

Klorofil dapat mencegah penyusupan anak-anak sel kanker ke jaringan sel-sel normal dengan cara menghalangi enzim-enzim penghancur protein dari sel-sel kanker tersebut. Keadaan ini terjadi karena klorofil memiliki kemampuan sebagai antiproteolitik. Sifat antiproteolitik klorofil juga dapat dimanfaatkan oleh penderita radang sendi, pankreas, bronchitis penyebab asma dan mencegah alergi. Klorofil dinyatakan Oda dkk. mampu mencegah efek merugikan dari enzim-enzim penghancur protein pada radang pankreas. Penelitian tentang pengaruh klorofil terhadap radang pankreas telah dilakukan oleh Oda dkk. yang menyatakan bahwa efek buruk dari enzim-enzim penghancur protein dalam pankreas dapat diatasi oleh adanya klorofil.

 Klorofil sebagai pembersih

Berbagai penemuan telah mendorong ke arah klorofil sebagai zat gizi bermanfaat untuk tubuh. Zat hijau daun ini dapat membersihkan jaringan aus dan ampas baik yang berupa parasit, bakteri, zat-zat kimia beracun, logam berat, lendir, kolesterol dan lemak jenuh. Selain itu, klorofil juga dikenal sebagai pencegah dan penetral bau badan. Ahli nutrisi, Prof. Benard Jansen mengungkapkan, klorofil sangat efektif membersihkan racun yang disebabkan oleh pestisida dan sisa-sisa obat dari dalam tubuh. Manfaat klorofil sebagai pembersih disebabkan oleh struktur kimia klorofil bagian kepala yang bersifat hidrofilik dan ekor yang hidrofobik. Struktur seperti ini menyebabkan klorofil memiliki daya pembersih yang potensial dalam jaringan tubuh. Ekor yang hidrofobik mengangkat kotoran-kotoran dalam tubuh layaknya sabun mengangkat minyak dari tubuh. Kepala klorofil yang hidrofilik akan menarik keluar ekornya yang telah berikatan dengan kotoran dalam tubuh, kemudian membawanya keluar bersama tinja.

 Klorofil menstabilkan tekanan  darah

Klorofil dapat menurunkan kadar renin dan melebarkan pembuluh darah, sehingga dapat menurunkan tekanan darah yang tinggi tanpa mempengaruhi tekanan darah yang normal. Adanya tekanan darah yang normal dan pelebaran pembuluh darah yang diperoleh dari efek kerja klorofil akan dapat menghilangkan rasa nyeri akibat timbunan asam laktat, memperbaiki radang organ pankreas, dan mencegah terjadinya arterosklerosis. Yoshiro menyatakan bahwa klorofil mampu menghilangkan rasa nyeri otot, mencegah terjadinya stroke, jantung koroner, radang pankreas, dan gangguan fungsi ginjal. Kemampuan klorofil untuk mencegah arterosklerosis dan memperlebar pembuluh darah akan semakin memperlancar aliran darah. Keadaan ini memungkinkan pengiriman gizi dan gas oksigen, kelancaran pengangkutan limbah, peremajaan sel dan pencegahan penyakit-penyakit degeneratif seperti stroke, jantung koroner, kanker, hipertensi, diabetes, dan lain-lain.

Klorofil sebagai pengganti sel-sel yang rusak

Klorofil berfungsi sebagai pengganti sel-sel yang rusak. Pernyataan ini dibuktikan dengan penelitian yang dilakukan oleh Rollet dan Burgi pada tahun 1930 yang menyatakan bahwa ekstrak tumbuh-tumbuhan hijau mempunyai efek merangsang dalam pertumbuhan jaringan. Penelitian ini didukung pula oleh Gordonoff dan Ludwig  pada 1935 yang mengungkapkan bahwa ekstrak pigmen hijau tumbuh-tumbuhan memang mempunyai efek merangsang pertumbuhan jaringan. Pada penelitian yang lain, Burgi melakukan percobaan dengan menggunakan luka buatan pada kulit tulang belakang kelinci. Hasil percobaan Burgi tersebut telah membuktikan bahwa klorofil murni memiliki kemampuan yang lebih besar dalam regenerasi jaringan dibandingkan karoten ataupun ksantofil.

 Klorofil mengatasi arterosklerosis

Klorofil mampu mencegah terjadinya arterosklerosis dengan 3 macam cara, yaitu mencegah perbanyakan sel otot polos, meningkatkan fungsi hati untuk menurunkan kadar kolesterol darah dan menyerap kolesterol dari empedu dan makanan dengan memanfaatkan kemampuan penyerapan dinding selnya.

Klorofil sebagai antioksidan

Klorofil yang merupakan salah satu jenis senyawa antioksidan, dapat mencegah oksidasi yang berlebihan dalam tubuh. Reaktivitas radikal bebas juga dapat merusak semua tipe molekul seluler, termasuk protein, karbohidrat, lemak, dan juga asam nukleat pembentuk DNA. Klorofil menjaga kestabilan dan menghalangi kemusnahan DNA dalam sel, sebab klorofil kaya dengan nutrisi dan penyumbang oksigen yang dapat menetralkan radikal bebas serta menggagalkan aktivitas radikal bebas dalam merusak sel-sel tersebut. Klorofil juga kaya dengan enzim superoksida dismutase, yaitu enzim yang berfungsi sebagai antioksidan kuat dalam menetralkan aktivitas radikal bebas.

Kerusakan DNA juga bisa terjadi akibat adanya substansi karsinogen seperti aflatoksin terutama aflatoksin B1 yang dapat dicegah dengan mengkonsumsi klorofilin, yaitu senyawa turunan klorofil yang logam magnesiumnya digantikan dengan Cu. Percobaan pada manusia telah membuktikan bahwa kerusakan DNA oleh aflatoksin dapat dikurangi 55% dengan mengkonsumsi suplemen klorofilin sebanyak 100 mg, 3 kali sehari selama 4 bulan. Jumlah ini (300 mg/hari) sebanding dengan jumlah klorofil yang terdapat dalam 1 ons bayam. Fakta epidemiologi juga membuktikan bahwa seseorang yang melakukan diet sayuran berwarna kuning sampai hijau akan terlindung dari efek karsinogen, aktivitas mutagenik, klastogenik, serta genotoksik.

Klorofil sebagai antibakteri

Penelitian Silov dkk menyatakan bahwa klorofil menyebabkan jumlah bakteri anaerob berkurang, sedangkan bakteri aerob yang menguntungkan menjadi bertambah. Pada kasus ini, klorofil tidak secara langsung membunuh bakteri anaerob, tetapi klorofil menciptakan suasana yang tidak menguntungkan bagi kehidupan bakteri anaerob. Bagi bakteri aerob, suasana tersebut sangat menguntungkan dan menyebabkan perkembangbiakannya meningkat, sehingga dapat memperlancar fungsi usus besar, seperti mengatasi sembelit dan menghilangkan bau serta produksi gas yang berlebihan. Penelitian yang dilakukan Young dan Beregi terhadap penderita sembelit, juga mengungkapkan bahwa pasien menjadi lancar buang air besar serta jumlah dan bau gas usus besar menjadi berkurang setelah mengkonsumsi klorofil.

 Klorofil memperbaiki fungsi hati

Penelitian Okuda dkk., Sakuno, dan Wang dkk. menunjukkan bahwa klorofil dapat meningkatkan fungsi organ hati untuk mengeluarkan kolesterol dari darah ke empedu. Selain itu Fink dan Herold menyatakan bahwa klorofil dapat mencegah kerusakan organ hati karena bahan-bahan beracun seperti etionin, alkohol, dan minuman keras lainnya. Klorofil tersebut juga terbukti dapat memperbaiki perlemakan hati dan memperbaiki komposisi protein dalam darah.

 Klorofil menyembuhkan luka

Selama perang dunia II, salep klorofil telah digunakan untuk mengobati luka, bahkan dapat bermanfaat ketika salep-salep antibiotik dan penisilin tidak efektif. Namun perlu diketahui bahwa klorofil tidak bekerja sebagai antibiotik kuat. Kemampuan klorofil dalam menyembuhkan luka terjadi karena kemampuannya mempercepat pembentukan jaringan yang menjadi dasar pada pertumbuhan jaringan baru dalam luka. Burgi pada tahun 1930 menyatakan bahwa ekstrak klorofil mempunyai efek merangsang pertumbuhan jaringan. Penelitian Burgi tersebut menunjukkan bahwa luka buatan pada kulit kelinci dan marmut dapat disembuhkan dengan klorofil. Ini menunjukkan adanya regenerasi jaringan yang lebih cepat dibandingkan peran karoten dan ksantofil. Penelitian lain menunjukkan, salep klorofil atau larutan klorofil 0,2% dapat merangsang pertumbuhan jaringan penunjang sehingga dapat mempercepat penyembuhan luka. Selain itu, Smith dan Livingston mengkaji tentang penyembuhan terhadap 1.372 buah luka biasa dan luka bakar menggunakan 17 macam preparat. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa hanya preparat klorofil saja yang menunjukkan hasil terbaik. Kombinasi klorofil dan penisilin juga dapat menyembuhkan luka biasa dan luka bakar yang dipercepat 35% di atas penggunaan klorofil saja atau penisilin saja. Gruskin mengungkapkan bahwa larutan klorofil dapat mengatasi 1200 kasus infeksi dan luka seperti infeksi saluran pernafasan, serambi jantung dan macam-macam luka borok kronis. Selain itu, klorofil juga memiliki kemampuan menyembuhkan infeksi telinga, hidung, dan tenggorok. Penelitian yang dilakukan Goldberg dengan menyemprotkan klorofil pada rongga mulut dan antara sela-sela gigi, ternyata dapat menghentikan pendarahan gusi dan semakin menguatkan gigi geraham serta mempercepat tumbuhnya jaringan baru. Salep klorofil ternyata juga efektif dalam penyembuhan radang kulit setelah pengobatan kanker dengan menggunakan terapi radiasi. Yoshida dkk. mengemukakan bahwa efek klorofil yang dapat memperlebar pembuluh darah dan meningkatkan jumlah fibroblas akan bermanfaat dalam proses penyembuhan luka akibat kencing manis, radang pankreas, dan luka pada radang tenggorok yang menyebabkan asma.

 Klorofil merangsang fibroblas

Klorofil dapat mempercepat penyembuhan luka dengan cara merangsang fibroblas, yaitu sel pembentuk jaringan ikat yang berperan penting dalam penyembuhan luka sehingga darah yang keluar pada luka dapat terhenti. Fibroblas dapat dipacu dengan cara menambahkan larutan klorofil sebanyak 0,05–0,5%, sedangkan Yamaguchi dkk. menggunakan chlorella (mengandung klorofil) untuk tukak lambung dan tukak usus kecil. Tablet chlorella telah dibuktikan mampu menyembuhkan luka akibat terjatuh dan pendarahan akibat cabut gigi dalam waktu relatif singkat, yaitu 1–2 menit. Selain itu, serbuk chlorella juga terbukti dapat memulihkan kulit yang terkena panas knalpot kendaraan bermotor atau tersiram air panas.

 Klorofil menghilangkan bau badan

Manfaat klorofil dalam mengatasi masalah bau badan, bau gas usus besar, bau nafas, dan bau keringat telah diketahui. Dalam kelenjar keringat terdapat 2 substansi, yaitu apokrin dan ekrin. Apabila jumlah apokrin berlebihan maka akan menimbulkan bau keringat. Klorofil memiliki kemampuan untuk menyeimbangkan produk apokrin dan ekrin dalam kelenjar keringat tubuh, sehingga bau keringat dapat berkurang. Hasil penelitian Young dan Beregi, yang memanfaatkan klorofil, menunjukkan bahwa klorofil mampu menghilangkan bau pada usia lanjut yang sering buang air kecil secara tidak sadar. Weingarten dan Payson juga melaporkan bahwa penggunaan klorofil dapat mengurangi bau bagi penderita kolostomi.

 Klorofil sebagai pewarna

Warna hijau klorofil telah menjadikannya sebagai pigmen komersial yang digunakan dalam pewarnaan pada industri makanan maupun tekstil. Sebagai pewarna alami, klorofil digunakan dalam pewarnaan lilin, parafin, damar, lemak, minyak pelumas, batik serta pada industri makanan seperti gula-gula, gelatin, dan permen karet. Dengan teknik modifikasi kimiawi struktur klorofil, pusat logam magnesium diganti dengan tembaga atau seng sehingga dapat menstabilkan molekul klorofil dan membentuk warna hijau terang yang banyak dimanfaatkan dalam pewarnaan makanan atau pengawetan sayuran. Penggunaan klorofil sebagai pewarna pada industri makanan telah diakui keamanannya. Pernyataan tersebut telah dibuktikan melalui penelitian in vivo  oleh Sarkar dan Negishi yang menunjukkan ketiadaan hal-hal merugikan dengan toksisitas sampai 5%. Menurut Arbogast dkk, klorofil tidak menimbulkan keracunan bagi manusia.

 Tidak hanya klorofil, senyawa turunannya juga ada yang berkasiat sebagai obat. Beberapa penelitian mengindikasikan, bahwa makanan yang menghasilkan beberapa senyawa turunan klorofil berperan dalam pencegahan penyakit kanker. Turunan klorofil yang sering muncul selama pengolahan makanan berklorofil adalah feofitin dan feoforbid. Keduanya juga dapat ditemukan dalam sayuran fermentasi serta daun teh, yang terbukti berfungsi sebagai antioksidan potensial dalam  pencegahan penyakit. Berdasarkan penelitian Higashi-Okai dkk, feofitin dapat berfungsi sebagai antigenotoksik dan antitumor. Selain itu, senyawa ini juga bersifat antimutagenik dan antikanker, sedangkan feoforbid berkhasiat sebagai antiperadangan yang berkaitan dengan aktivitas leukosit dan berperan dalam transfusi darah. Penelitian yang dilakukan Nakamura dkk. menunjukkan bahwa feoforbid juga dapat berfungsi sebagai antitumor. Nakamura juga mengemukakan bahwa feoforbid menunjukkan aktivitas antioksidan terhadap auto-oksidasi lemak.

 Tidak semua mekanisme klorofil sebagai obat telah diketahui dengan jelas, beberapa di antaranya hanya diketahui fungsinya secara empiris tanpa diketahui mekanisme ilmiahnya. Keadaan ini dapat memberikan prospek masa depan yang baik bagi para peneliti untuk menyelidiki peran klorofil tersebut sebagai obat. []

Leenawaty Limantara/Bios Vol.1 No.1

About dhanang

Membuat ilmu kehidupan menjadi hidup lebih hidup

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Scroll To Top