Home / Biodiversitas / KATEKIN: Senyawa Teh (Camelia sinensis) yang Multiguna
KATEKIN: Senyawa Teh (Camelia sinensis) yang Multiguna
Gambar pemetik teh di Kebun Pagilaran, Batang - Jawa Tengah.

KATEKIN: Senyawa Teh (Camelia sinensis) yang Multiguna

PENDAHULUAN

Sekitar lima ribu tahun yang lalu, seorang Kaisar China bernama Shen Nung, yang terkenal dengan kepandaiannya dalam ilmu pengetahuan dan pengobatan China meyakini bahwa cara teraman untuk minum air adalah dengan memasaknya. Sewaktu dia memasak air di bawah sebuah pohon, secara tidak sengaja dia menemukan beberapa daun pohon tersebut yang jatuh ke dalam air yang sedang dimasak, setelah dicoba diminum, air seduhan ternyata terasa segar. Daun itu ternyata adalah daun teh. Itulah sekelumit legenda dari China tentang asal muasal penemuan teh dan satu dari sekian banyak legenda.

Teh (Camelia sinensis) adalah tanaman yang berasal dari dataran tinggi Irawadi, Myanmar, kemudian disebarkan ke China, Taiwan, Jepang, India, dan ke Asia Tenggara.

Seiring berjalannya waktu, minuman yang menempati posisi ke dua sebagai minuman terfavorit setelah air ini memiliki banyak “arti”, yaitu sebagai bagian dari status sosial, adat, dan pengobatan. yaitu sebagai bagian dari status sosial, adat, dan pengobatan.

Dari daratan Asia, minuman teh pun menyebar ke wilayah barat dan memikat hati banyak orang. Masyarakat Inggris, misalnya, juga memiliki ritual khusus  minum teh yang unik seperti juga di Jepang. Penyebaran minuman tersebut tidak lepas dari rasa, aroma, dan manfaatnya yang beragam sehingga motivasi orang minum teh pun berbeda-beda

SENYAWA AKTIF DALAM DAUN TEH

Daunnya yang berukuran kecil berbanding terbalik dengan khasiatnya yang besar bagi kesehatan, misalnya mulai dari pengusir rasa kantuk, sampai penghambat penyebaran sel kanker dalam tubuh. Ada tiga macam jenis teh, yaitu jenis Asam, Sinensis, dan Hibrida. Teh jenis Asam mempunyai daun yang relatif lebar dan besar, sedangkan teh Sinensis mempunyai daun yang lebih kecil. Teh Hibrida merupakan jenis teh hasil silangan jenis Asam dan Sinensis.

Teh mengandung senyawa polifenol utama: Katekin, Epikatekin, Galokatekin, Epigalokatekin, Epikatekingalat, dan Epigalokatekingalat (Bokuchava dan Skobeleva, 1969). Senyawa polifenol inilah yang merupakan senyawa anti oksidan sehingga banyak dimanfaatkan untuk mencegah atau juga dapat menyembuhkan sebagian penyakit manusia. Kustamiyati (2006) mengatakan bahwa kandungan katekin dalam pucuk teh segar 15,53%, pucuk layu 14,39%, bubuk giling 13,35%, bubuk kering awal 13,06%, dan bubuk kering akhir11,88% per berat kering.

Dalam daun teh terkandung senyawa-senyawa sebagai berikut:

Tabel 1. Komposisi kimia daun pucuk teh jenis Asam

Senyawa

(Chemical compound)

% Berat Kering

(% Dry Weight)

Larut dalam air dinginFlavanol:     EpigalokatekingalatEpigalokatekin

Epikatekingalat

Epikatekin

Galokatekin

Katekin

Flavanol dan Glikosida

Leucoantosianin

Asam fenolat: teogalin

lainnya

 

Fenol total

 

Kafein

Asam amino:   teanin

Lainnya

Karbohidrat

Asam Organik

Senyawa Terbang

 

Larut dalam air panas

Polisakarida:  Pati

Lainnya

 

Protein

Abu (Anorganik)

 

Tidak larut dalam air

Selulosa

Lignin

Lipida

 

9 -133 -  6

3 -  6

1 -  3

1 -  2

1 -  2

3 -  4

2 -  3

2

2

 

30

 

3 -  4

2

2

4

0,5

0,01

 

 

2 – 5

12

 

15

5

 

 

7

6

3

(Hilton, 1973)

PERAN KATEKIN

 Pada umumnya senyawa flavanoid atau polifenol yang terdapat dalam tumbuhan akan digunakan dalam sistim pertahanan tumbuhan, baik terhadap infeksi patogen, serangan hama, ataupun untuk fungsi lainnya. Demikian pula katekin teh, mempunyai fungsi baik pada tanaman teh itu sendiri maupun yang dapat dimanfaatkan oleh manusia untuk kesehatan.

 

Pada Tanaman Teh

Pada tanaman teh yang terinfeksi oleh patogen, senyawa polifenol tertentu dapat memacu lignifikasi pada sel sekitar daerah infeksi. Selain itu, katekin dan derivatnya dapat menghambat perkecambahan spora penyakit Cacar Teh (Exobasidium vexans). Perbedaan ketahanan beberapa klon teh ternyata juga berbanding langsung dengan kandungan polifenol dalam klon. Makin tinggi kandungan polifenolnya, klon tersebut makin tahan terhadap E. vexans.

Pada Kesehatan Manusia

Awalnya, teh ditemukan untuk pengobatan, tetapi selanjutnya teh lebih dikenal sebagai tanaman penyegar. Namun pada tahun 50’an, fungsi teh sebagai obat dan makanan fungsional mulai diteliti lagi. Berbagai penelitian telah dilakukan dan hasilnya telah banyak dilaporkan.

Kanker

Hepatocellular Carcinoma (HCC)

Penelitian Xu Yaochu et al. di distrik Wangbao dan  Lusi, Qidong dan distrik Maoshan, Jurong  dengan menggunakan metode survei cross-section dan case-control study melaporkan bahwa peminum teh hijau memberikan korelasi negatif dengan HCC sebesar -0.92 dan -0.98.

 

Kanker Rahim (Ovarian Cancer)

Para peneliti di Stockholm, Swedia mengadakan penelitian tentang kebiasaan para perempuan yang mengonsumsi teh dengan kemungkinan terkena serangan kanker rahim. Dari hasil penelitian, ternyata bahwa para perempuan yang terbiasa mengonsumsi teh selama 15 tahun dapat terhindar dari kemungkinan terserang kanker.

 Jantung

Para peneliti Jerman melaporkan bahwa flavonoid teh yang merupakan antioksidan kuat, dapat mencegah penyempitan pembuluh darah, sehingga memperkecil risiko serangan jantung. Hara pada tahun 1995 melaporkan juga bahwa atherosclerosis yang disebabkan hypercholesterolemia dapat dicegah dengan polifenol teh karena sifatnya yang antioksidatif dan hypolipidimic.

Menurut berbagai penelitian, polifenol 100 kali lebih efektif dari vitamin C dan 25 kali lebih efektif dari vitamin E. Kandungan tersebut menetralisir radikal bebas dalam tubuh sehingga dapat mencegah serangan jantung dan kanker, mengontrol pertumbuhan sel kanker dan menghancurkan kanker tanpa merusak sel di sekitarnya.

Rotavirus

Rotavirus yang menginfeksi pada manusia menyebabkan diare. Epigalokatekingalat serta teaflavindigalat dideteksi dengan menggunakan metode fluorescent antibody dan fotografi, memberikan hasil bahwa 3.12 µg epigalokatekingalat dan 4 µg teaflavindigalat dalam 1 ml larutan kultur sel memberikan hambatan yang besar terhadap rotavirus.

Teh juga bermanfaat untuk mencegah osteoporosis berkat kandungan vitamin K, mineral fluor (F), magnesium (Mg), flavonoid, yang berperan dalam proses metabolisme tulang. Menurut penelitian yang dimuat dalam American Journal of Clinical Nutrition, mengonsumsi teh sejak muda, dapat mengurangi risiko osteoporosis di masa tuanya. Mineral fluor tersebut juga berperan menjaga kesehatan gigi dan gusi, sementara flavonoid bekerja sebagai anti oksidan yang dapat menetralisir serangan radikal bebas.

Di Jawa, para perempuan biasa mencuci muka pada pagi hari dengan menggunakan air seduhan teh yang telah diembunkan. Kebiasaan tersebut dipercaya dapat menjaga wajah tetap awet muda, dan memperlambat penuaan. Secara ilmiah hal tersebut dapat dijelaskan bahwa sifat polifenol teh, termasuk katekin dan derifatnya, merupakan antioksidan dan penangkal radikal bebas yang dapat membuat sel kulit tetap segar, bahkan terbebas dari kanker kulit.[]

Martanto Martosupono/Vol.1, No. 1, Tahun 2007

 

About dhanang

Membuat ilmu kehidupan menjadi hidup lebih hidup

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Scroll To Top