Home / biokimia / TEMBAKAU BUKAN SEKEDAR ASAP ROKOK
TEMBAKAU  BUKAN  SEKEDAR  ASAP  ROKOK
Panen tembaku di Dusun Cuntel, lereng Gunung Merbabu.

TEMBAKAU BUKAN SEKEDAR ASAP ROKOK

Tembakau dan Rokok

Catatan mengenai kebiasaan orang menggunakan tembakau dimulai pada tahun 1499 oleh Amerigo Vespucci yang mengunjungi Venezuela dan mendapati orang setempat mempunyai kebiasaan menghisap tembakau. Kemudian tahun 1545 pelaut Kanada menjumpai suku Indian di Montreal  juga mempunyai kebiasaan menghisap tembakau. Di Indonesia sejarah dikenalnya tembakau dimulai pada tahun 1596, pada saat Cornelius de Houtman mendarat di Banten. Dengan mengadopsi kata “roken” dari bahasa Belanda, masyarakat Indonesia mendefinisikan proses konsumsi tembakau dengan cara dibakar sebagai rokok (merokok). Kata tembakau sendiri diadopsi dari bahasa Portugis “tobacco”, sedangkan dalam bahasa Belanda disebut “Tabak”. Tembakau di Indonesia dikategorikan berdasarkan daerah penanamannya, seperti Temanggung, Weleri, Mranggen, Boyolali, Bojonegoro, Lombok, dan beberapa daerah yang lain .

Gambar atap rumah yang dijadikan untuk menjemur tembakau. Suasana ini dapat di jumpai di dusun cepit di lereng Gunung Sumbing, Temanggung.

Gambar atap rumah yang dijadikan untuk menjemur tembakau. Suasana ini dapat di jumpai di dusun cepit di lereng Gunung Sumbing, Temanggung.

Berdasarkan data FAO (Food and Agriculture Organization) tahun 2003, konsumsi tembakau tahun 1970–1999 dan perkiraan kebutuhan tembakau 2005–2010 berdasarkan perhitungan matematis  dan kebijakan pemerintah negara dapat dilihat pada tabel 1.

 

Tabel 1. Konsumsi dan Perkiraan Kebutuhan Tembakau Dunia

 

Data Aktual

Prediksi

          Matematis Kebijakan
  1970-72 1980-82 1990-92 1997-99 2005 2010 2005 2010
Dunia 4193.9 5404.0 6616.6 6475.7 6695.4 7151.5 6062.7 6447.7
Negara Maju 2297.0 2568.0 2384.4 237.8 2087.0 2054.8 2065.2 2029.3
Amerika Utara 712.6 774.6 699.6 701.6 538.9 475.9 538.9 475.9
Amerika Serikat 646.1 706.2 657.9 651.3 493.3 433.8 493.3 433.8
Eropa 997.8 1147.5 1188.4 981.0 946.4 946.0 922.4 927.8
Eropa Utara 715.4 811.4 905.9 730.7 696.4 690.6 690.0 690.4
Eropa lainnya 282.4 336.0 282.5 250.3 250.0 255.3 232.4 237.4
Daerah bentukan USSR 319.3 362.9 248.2 311.3 383.3 442.3 349.9 103.8
Oceania 32.4 31.5 25.2 25.2 21.6 19.3 26.2 23.4
Negara Berkembang 2059.2 3013.5 4339.1 4237.9 4608.5 5096.7 3997.5 4418.4
Africa 114.5 117.6 151.8 190.2 257.3 290.6 234.2 264.4
Amerika Latin 340.5 429.5 375.0 457.4 473.6 530.7 412.9 462.2
Brazil 120.5 218.8 200.6 229.4 234.4 257.9 210.5 231.6
Timur Tengah 130.4 218.4 242.8 265.5 271.5 306.8 242.2 273.7
Turki 59.5 108.5 134.7 126.1 162.2 140.9 112.5 125.6
Asia dan Pasific 1472.4 2247.0 3567.8 3324.7 3606.1 3968.6 3108.2 3418.1
Cina 145.6 1448.2 2553.5 2197.0 2390.8 2659.5 2048.8 2277.7
India 235.8 326.1 407.3 477.4 517.3 563.8 450.4 490.7
Indonesia 42.1 104.1 121.4 137.9 166.2 180.7 131.6 142.8
Sumber : FAO, 2003

Tembakau sebagian besar dikonsumsi sebagai rokok, berdasarkan USDA, 2001 data produksi rokok dunia tahun 1970–1999.

 

Rokok Kretek di Indonesia      

Rokok kretek di Indonesia diawali dengan penemuan Haji Jamahri tahun 1880, asal Kudus, yang mencampur potongan cengkeh dengan racikan tembakau kemudian dilinting menjadi rokok. Rokok karya Haji Jamahri ini digunakan untuk mengobati orang sakit gangguan pernapasan. Karena rokok ini mengeluarkan bunyi ”keretek-keretek” akibat pembakaran cengkeh, maka rokok ini dikenal dengan nama rokok kretek. Rokok kretek ini mempunyai penggemar yang semakin banyak, sehingga menarik minat Nitisemito untuk memproduksi secara masal pada tahun 1906 dengan merk ”Bal Tiga”. Produksi rokok oleh Nitisemito merupakan tonggak bersejarah berdirinya industri rokok kretek di Indonesia yang dikelola dengan manajemen modern, baik dari segi produksi maupun pemasaran.

Seiring dengan berjalannya waktu, banyak produsen mulai mengembangkan produk rokok dengan berbagai varian. Diawali dengan klobot, yaitu rokok kretek yang menggunakan kulit buah jagung (kelobot) sebagai pembungkus racikan tembakau dan cengkeh. Kemudian berkembang dengan menggunakan kertas khusus sebagai ganti

Tabel 2. Produksi Rokok Dunia

 

Tahun Produksi

1970-72 1980-82 1990-92 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999
Dunia 2981 4499 5370 5300 5478 5598 5680 5633 5580 5567
Negara maju 1991 2602 2480 2362 2452 2527 2541 2498 2470 2532
Amerika Utara 638 783 754 707 781 798 808 768 730 696
Kanada 52 68 46 46 56 52 50 48 50 50
Amerika Serikat 586 715 708 661 726 746 758 720 680 464
Eropa 725 1073 1070 1002 1047 1109 1087 1072 1067 1085
EU (15) 448 717 746 708 723 760 758 759 755 763
Prancis 70 66 53 48 48 46 47 45 43 43
Jerman 146 184 216 208 221 221 193 182 182 205
Itali 68 75 58 55 55 50 52 52 51 45
Belanda 26 41 82 84 88 101 111 116 116 120
Spanyol 49 82 86 78 82 77 71 75 78 73
Inggris 145 150 127 117 115 156 170 170 164 155
Eropa Lainnya                    
Bulgaria 62 85 66 32 54 75 57 45 33 38
Polandia 77 88 90 100 98 101 95 96 97 95
Wilayah bentukan USSR 338 365 286 281 272 276 296 330 333 419
Oceania 33 41 41 39 39 38 37 36 37 36
Negara maju lainnya 256 340 329 333 314 306 314 293 303 296
Jepang 235 306 284 289 269 263 271 255 267 263
Negara berkembang 991 1898 2890 2938 3025 3071 3139 3135 3110 3035
Afrika 37 83 98 102 106 105 107 107 101 102
Algeria 7 16 19 20 21 21 21 21 22 22
Maroko 5 12 12 10 13 13 13 13 13 13
Amarika Latin 219 335 355 335 354 365 370 373 365 303
Antigua 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Argentina 31 35 36 39 41 41 41 42 42 43
Brazil 77 137 168 149 164 174 182 183 170 108
Meksiko 44 53 52 49 47 46 47 47 47 47
Timur Tengah 80 124 167 173 192 200 214 220 227 234
Mesir 15 29 41 39 39 42 45 47 48 48
Iran 13 11 15 16 16 16 16 16 16 16
Irak 6 8 17 13 13 13 14 14 14 14
Turki 42 56 67 78 94 100 109 112 118 125
Asia dan Pasifik 655 1355 2268 2327 2374 2400 2447 2433 2416 2396
Cina 388 586 1630 1676 1710 1735 1700 1684 1684 1675
India 63 87 86 88 89 95 102 9 98 97
Indonesia 35 87 153 162 177 186 212 225 216 220
Korea 45 71 94 7 91 88 93 94 104 97
Pakistan 23 36 31 33 36 33 46 46 48 52
Philipina 43 64 70 71 65 57 79 69 75 69
Sumber : USDA, 2001

daun jagung yang dikenal dengan sigaret kretek tangan (SKT). Pada tahun 1974, PT Bentoel, Malang mempelopori produksi rokok kretek dengan penambahan filter yang diproduksi menggunakan mesin, selanjutnya dikenal dengan sigaret kretek mesin (SKM). Keberadaan SKM yang mempunyai tampilan lebih modern, higienis dan rapi, dianggap lebih sehat dibandingkan SKT sehingga menggeser posisi SKT.

Dengan semakin tingginya kesadaran akan bahaya merokok, maka konsumen rokok mencari alternatif lain dari rokok kretek. Peluang ini ditangkap oleh PT HM Sampoerna yang kemudian meluncurkan produk rokok kretek, ”Sampoerna A Mild”, pada tahun 1989. Produk ini  mempunyai karakteristik rokok kretek dengan kandungan tar dan nikotin lebih rendah daripada SKM reguler, dengan memanfaatkan teknologi laser perforation disertai dengan diameter rokok yang lebih ramping. Adanya produk SKM Mild ini secara perlahan mampu menggeser dominasi SKM reguler, sehingga saat ini kategori produk SKM Mild mempunyai pangsa pasar yang berkembang paling pesat dibandingkan dengan SKM dan SKT. Kenyataan ini terjadi karena beberapa produsen rokok kretek meluncurkan produk SKM Mild (Tabel 3 dan 4). Di Tabel 5 dapat dilihat sebaran produksi tembakau serta luas area di Indonesia yang tercatat oleh Direktorat Jendral Perkebunan, Departemen Pertanian RI tahun 2001 menunjukkan Pulau Jawa sebagai penghasil utama tembakau Indonesia.

Tabel 3. Produksi Rokok Kretek Indonesia

Tahun

1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005
SKM 111,057,564 117,097,603 113,306,612 96,906,286 99,100,320 116,047,505 121,650,930
SKT 75,736,931 78,524,258 77,213,106 71,577,748 63,566,665 71,000,373 71,264,923
KLB 227,945 279,374 230,710 168,984 161,045
TOTAL 187,022,440 195,621,861 190,519,718 168,763,409 162,897,695 187,216,862 193,076,898
(Sumber Gappri, 2006 data dalam ribuan batang/tahun)

 

Tabel 4. Hasil Analisis Kandungan Tar dan Nikotin Beberapa Merk Rokok Kretek

Merk

 

Nicotin

Tar

Merk

Nicotin

Tar

Merk

Nicotin

Tar

mg/btg

mg/btg

mg/btg

mg/btg

mg/btg

mg/btg

SKM     SKM Mild     SKT
Djarum Spr/12 1.883 33.035 Clasmild/16 0.787 9.189 Djarum 76/12 1.998 39.745
GG Surya /16 1.508 30.707 GG Nusantara/16 0.979 16.651 234 /12 2.131 40.755
GG Int/12 1.804 29.352 Samp A Mild/16 0.896 9.853 GG Merah/12 1.913 37.652
Wismilak Dipl/12 2.614 34.227 Star Mild/16 0.778 10.579 CM/10 1.592 37.747
Bentoel Intern/12 1.841 30.663 Djarum Mezzo/16 1.07 15.091 Matra/12 1.771 38.616
NIKKI SUPER 1.719 32.882 L.A. Light/16 0.916 14.303 Marathon/12 1.785 38.075
NIKO INT 1.764 34.17
MDI 1.418 30.532

 

 

 

 

Tabel 5. Sebaran Produksi Tembakau Indonesia

Pulau/Propinsi Area (Ha) Hasil (Ton/Ha) Produksi %
SUMATRA 5408 0.51 2748 2.07
Sumatra Utara 3492 0.55 1906 1.42
JAWA 134647 0.74 100270 74.62
Jawa Timur 91096 0.74 66982 49.85
Jawa Tengah 37275 0.71 30019 22.34
Jawa Barat 6276 0.52 3269 2.43
Yogyakarta 0 0 0 0
BALI & NUSA TENGGARA 24346 1.28 31153 23.18
Nusa Tenggara Barat 18907 1.41 26621 19.81
Bali 1947 1.7 3318 2.47
Nusa Tenggara Timur 3492 0.35 1214 0.9
KALIMANTAN 0 0 0 0
SULAWESI 611 0.28 172 0.13
MALUKU & IRIAN JAYA 0 0 0 0
INDONESIA 165012 0.81 134379 100
Sumber : Direktorat Jendral Perkebunana Departemen Pertanian RI, 2001  

 

Pro Kontra Hasil Tembakau

Hingga hari ini, tembakau masih menjadi pro kontra bagi penduduk dunia. Di satu pihak tembakau bernilai positif bagi mereka yang diuntungkan. Sebut saja petani tembakau, para pengusaha dan buruh pabrik rokok, serta masyarakat sekitar pabrik yang secara kasat mata memperoleh penghidupan dari daun yang satu ini. Belum lagi jika dilihat dari segi ekonomi dan bisnis, seperti biro iklan, pertandingan olah raga, konser musik juga turut ambil bagian dari keuntungan tersebut, sedangkan bagi penikmat tembakau (baca: rokok), ini merupakan masalah cita rasa dan kepuasan. Untuk subyek-subyek di atas jelas terjadi simbiosis yang saling menguntungkan.

Di lain pihak khususnya dunia kesehatan dan lingkungan hidup, jelas bahwa tembakau spesifik sebagai bahan baku pembuatan rokok, merupakan musuh mereka. Banyak penelitian dan catatan kesehatan yang menguatkan pendapat tersebut, sehingga pemerintah mengatur dampak merokok bagi kesehatan dengan beberapa peraturan pemerintah, a.l. Peraturan Pemerintah No. 39/2000 yang mengatur mengenai labelisasi kandungan tar dan nikotin pada kemasan rokok, pencantuman peringatan pemerintah pada kemasan rokok, ”Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, gangguan kehamilan dan janin”, serta pembatasan media dan jam penayangan iklan. Masyarakat dunia yang anti tembakau bergabung dalam Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) berusaha meminimalkan penggunaan tembakau dalam masyarakat. Secara garis besar FCTC mengatur ketentuan merokok di tempat umum, produk, kemasan (Gambar 2), periklanan, penyelundupan, pengukuran fiskal, perlindungan generasi muda dari pengaruh rokok, pertanggungjawaban dan sanksi atas pelanggaran. Pada tanggal 23 Mei 2003, 192 negara anggota World Health Organization (WHO) telah menyetujui dokumen FCTC. Dua tahun kemudian pada 23 September 2005, 168 negara, telah menandatangani keikutsertaannya dalam FCTC, dan 86 negara yang menandatangani persetujuan tersebut telah meratifikasi FCTC dalam peraturan perundangan di negara mereka. Indonesia sampai saat ini belum menandatangani keikutsertaan dalam FCTC karena adanya ketergantungan pada industri rokok dalam penerimaan sektor cukai yang merupakan pemasok dana terbesar kedua setelah sektor migas.

 

Contoh Kemasan Rokok  mengikuti ketentuan FCTC

Contoh Kemasan Rokok mengikuti ketentuan FCTC

Namun jika mau melihat penggunaan lain dari tembakau yang sudah umum bahkan tua, tetapi tidak banyak menuai pro kontra adalah menginang (Jawa: nyusur). Kegiatan menginang cukup populer di beberapa negara di Eropa dengan kebiasaan mengunyah tembakau (chewing tobacco). Di Indonesia, bentuk konsumsi ini lebih banyak dilakukan oleh wanita-wanita tua di desa, dan mereka sependapat bahwa kegiatan menginang bermanfaat untuk menguatkan  gigi dan menghindari gigi berlubang. Jika dilihat dari segi estetika, menginang bukanlah pilihan yang tepat, tetapi dari segi kesehatan tidak banyak, bahkan belum ada penelitian dan catatan yang membenarkan pendapat tersebut tetapi juga tidak ada larangan atau semacam peringatan seperti pada produk rokok. Ternyata kegiatan ini memang hampir tidak pernah menuai masalah berarti, khususnya dari segi kesehatan. Ini terjadi karena pada proses menginang tidak terdapat proses pembakaran tembakau, akibat terjadinya proses pirolisa, yang menghasilkan gas dan aerosol yang mengandung senyawa toksik. Padahal sebenarnya dalam proses menginang terjadi penyerapan langsung nikotin oleh tubuh secara oral.

Wanita menginang.

Wanita menginang.

Dari hasil penelitian Hofmann tahun 2001, diketahui pembakaran rokok menghasilkan senyawa yang bersifat gas dan aerosol. Jenis dan kandungan senyawa yang teridentifikasi dalam asap rokok berupa gas tersaji dalam Tabel 6, sedangkan jenis dan kandungan senyawa yang teridentifikasi sebagai aerosol dapat dilihat pada Tabel 7.

 Tabel 6. Kandungan Senyawa Berbentuk Gas dalam Asap Rokok

Komponen Konsentrasi Komponen Konsentrasi
Nitrogen 280-320mg (56-64%) Metil format 20-30 µg
Oksigen 50-70 mg (11-14%) Asam volatil lainnya 5-10 µg
Carbon dioksida 45-65 mg (9-13%) Formaldehid * 20-100 µg
Carbon monoksida * 14-23 mg (2.8-4%) Asetaldehid * 400-1400 µg
Air 7-12 mg (1.4-2.4%) Akrolein * 60-140 µg
Argon 5 mg (1.0%) Aldehid volatil lainnya 80-140 µg
Hidrogen 0.5-1.0 mg Aseton 100-650 µg
Amonia * 10-130 µg Keton volatil lainnya 50-100 µg
Nitrogen oksida (Nox) * 100-600 µg Metanol * 80-180 µg
Hidrogen sianida 400-500 µg Alkohol volatil lainnya 10-30 µg
Hidrogen sulfida * 20-90 µg Asetonitril 100-150 µg
Metana 1.0-2.0 mg Nitril volatil lainnya 50-80 µgb
Alkana aromatic volatil lainnya 1.0-1.6 mgb Furan * 20-40 µg
Alkena volatil 0.4-0.5 mg Furan volatil lainnya * 45-125 µgb
Isoprena 0.2-0.4 mg Pindin 20-100 µg
Butadiena 25-40 µg Piridin * 15-80 µg
Asetilena 20-35 µg 3-Vinilpiridin 10-30 µg
Benzen 12-50 µg Piridin volatil lainnya 20-50 µgb
Toluena 20-60 µg Pirol 0.1-10 µg
Stiren  10 µg Pirolidin 10-18 µg
Hidrokarbon volatil lainnya 15-30 µg N-Metilpirolidin 2.0-3.0 µg
Asam format 200-600 µg Pirazin volatil 3.0-8.0 µg
Asan asetat 300-1700 µg Metilamin 4-10 µg
Asam propionat 100-300 µg Amin alifatik lainnya 3-10 µg
Sumber : Hofmann, 2001 Keterangan : * senyawa yang bersifat toksik

                         

Tabel 7. Kandungan Senyawa Berbentuk Aerosol dalam Asap Rokok

Komponen Konsentrasi (µg/batang) Komponen Konsentrasi

(µg/batang)Nikotin *1000-3000Limonen30-60Non nikotin50-150Terpen lainnyaTAAnatabin5-15Asam palmitat100-150Anabasin5-12Asam stearat50-75Alkaloid tembakau lainnya10-30Asam oleat40-110n-Hentriacontan100Asam linoleat150-250Total hidrokarbon lainnya300-400Asam linolenat 150-250Naftalen2-4Asam laktat60-80Fenantren0.2-0.4Indol10-15Antrasen0.05-0.1Skatol12-16Fluorosen0.6-1.0Indol lainnyaTAHidrokarbon aromatik karsinogenik *0.1-0.25Kuinolin *2-4Fenol *80-160Bensofuran *200-300Lanjutan table 7   KomponenKonsentrasi (µg/batang)KomponenKonsentrasi

(µg/batang)Fenol lainnya *60-180Stigmasterol40-70Katekol *200-400Sitosterol30-40Katekol lainnya100-200Kampesterol20-30Dihidroksi benzen lainnya200-400Kolesterol10-20Skopoletin15-30Anilin *0.36Polifenol lainnyaTAToluidin0.23Sikloten40-70Amin aromatik lainnya0.25Kuinon0.5N-nitrosamin khusus tembakau0.34-2.7Solanesol600-1000Gliserol120Neofitadin200-350  Sumber : Hofmann, 2001 Keterangan : * senyawa yang bersifat toksik

 

Tembakau tidak hanya sekedar asap rokok

Sesuatu yang tercipta di alam ini adalah baik apabila kita mampu memanfaatkannya dengan benar. Seperti halnya dengan tembakau, adalah baik jika dari tidak sekedar menikmati nikotinnya (merokok), tetapi bermanfaat juga bagi kesehatan dengan mengeksplorasi senyawa yang terkandung di dalamnya, sehingga menjadi tepat guna bagi dunia pengobatan dan kesehatan.

 Tembakau tidak hanya sekedar asap rokok. Dewasa ini telah banyak dikembangkan berbagai penelitian mengenai pemanfaatan tembakau selain rokok. Tembakau merupakan salah satu tanaman kontroversial, selama ini masyarakat belum banyak mengenal kegunaan tembakau selain rokok, sehingga pandangan masyarakat terhadap tembakau cenderung negatif. Padahal tembakau adalah tanaman transgenik yang baik dan merupakan sumber fitokimia, dan produk yang memiliki nilai tambah di bidang farmasi dan agroindustri.

Sebagai contoh, nikotin sulfat adalah komponen tembakau yang digunakan untuk pestisida yang ramah lingkungan tanpa meninggalkan residu. Solanesol (Gambar 4), yang merupakan isoprenoid alkohol, merupakan turunan karotenoid berbentuk trisesquiterpen alkohol dengan rumus molekul C45H74O. Senyawa tersebut diekstrak dari daun tembakau merupakan bahan dasar untuk sintesis vitamin K2, Vitamin E, Coenzym Q9, Coenzym Q10  dan agen potensial anti kanker dan perawatan jantung. Isolasi solanesol ini telah banyak dikembangkan untuk tembakau jenis Virginia dan tembakau lokal India. Kandungan rata-rata solanesol dalam tembakau jenis Virginia sekitar 5% dari berat kering.

Gambar 4.  Molekul Solanesol (C45H73OH)

Gambar 4. Molekul Solanesol (C45H73OH)

Kandungan asam malat, asam sitrat, dan asam amino esensial seperti lisin, metionin, triptofan dan sejumlah protein dapat diekstrak dari tembakau. Hormon tumbuh dalam tembakau dapat diekstrak, dalam aplikasinya ekstrak hormon tumbuh dalam tembakau dapat memacu pertumbuhan tanaman (bunga, buah, dan sayur) sebanyak 20%. Sejumlah senyawa yang diekstrak dari tembakau banyak digunakan dalam industri aroma, wewangian, dan bahan anti korosi. Kandungan potasium dalam tembakau mencapai 3%, dapat digunakan sebagai campuran pupuk NPK, dan ampas dari batang tembakau dapat digunakan untuk industri kertas. Minyak biji tembakau yang masih kasar dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan sabun, pelarut cat, dan pernis. Ampas daun dan biji tembakau sisa ekstraksi dapat digunakan sebagai pupuk organik, dan ampas biji tembakau masih mengandung 6% nitrogen.

Berbicara masalah tembakau memang tidak dapat terlepas dari aspek pro kontra. Ini dapat dimengerti karena pemahaman tembakau semata-mata hanya digunakan untuk pembuatan rokok, yang dianggap menimbulkan dampak kerugian kesehatan dan finansial perokok dan lingkungannya. Sementara dari sisi lain, industri rokok dapat memberikan lapangan kerja baik secara langsung maupun tidak langsung kepada sebagian masyarakat Indonesia (petani tembakau, petani cengkeh, karyawan industri rokok, pedagang kaki lima, dan sebagainya), serta industri lain yang terkait dengan industri rokok (industri permesinan, kertas, percetakan, flavor, periklanan dan sebagainya). Industri rokok memberikan kontribusi sektor penerimaan negara berupa cukai rokok dan pajak lainnya yang menopang perekonomian Indonesia, yang sampai saat ini hanya dapat diungguli oleh penerimaan sektor migas. Sulitnya petani tembakau mengubah kebiasaan menanam tembakau, yang telah dilakukan turun temurun, kepada komoditi lain yang mempunyai nilai dan kepastian jual seperti tembakau, semakin membuat kompleks permasalah tembakau di Indonesia.

Karenanya perlu dilakukan upaya terobosan baru yang mampu menjembatani kerumitan masalah tembakau di Indonesia. Salah satunya adalah dengan ekstraksi solanesol dari tembakau yang secara ekonomis mempunyai nilai jual dan manfaat tinggi tidak saja untuk kepentingan petani tembakau dan industri rokok, namun juga dunia medis, yang selama ini berseberangan dengan industri rokok. Tembakau memang tidak hanya sekedar asap rokok yang dianggap merugikan kesehatan, karena dari tembakau dapat diperoleh solanesol yang berguna bagi dunia medis. []

Ervien Dian Widyawati dan Leenawaty Limantara / Vol. 1, No. 1, Tahun 2007

About dhanang

Membuat ilmu kehidupan menjadi hidup lebih hidup

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Scroll To Top