Home / biokimia / Kelapa Sawit Bukan Hanya Minyak Goreng
Kelapa Sawit Bukan Hanya Minyak Goreng

Kelapa Sawit Bukan Hanya Minyak Goreng

 

Peningkatan kebutuhan akan minyak kelapa sawit, baik berupa Crude Palm Oil (CPO) maupun hasil olahan berupa minyak goreng, memberikan dampak atas peningkatan produksi minyak kelapa sawit di Indonesia. Data terakhir dari Foreign Agricultural Service (FAS) menunjukkan, bahwa Indonesia di tahun 2006 memproduksi 15 juta ton CPO dan 1,5 juta ton palm kernel oil (PKO). Dalam dua dekade terakhir kebutuhan CPO di pasar dunia mulai menggeser kedudukan minyak nabati lainnya, seperti minyak kedelai yang telah bertahan lama sebagai minyak sayur utama. Situasi ini dipicu setelah ditemukannya kandungan asam lemak trans dalam minyak kedelai yang memiliki dampak kurang baik bagi kesehatan. Menurut penelitian, jenis lemak ini berpotensi sebagai penyebab penyakit jantung koroner, disfungsi liver, obesitas, dan kanker. Selain itu, rendemen yang dihasilkan dari buah kelapa sawit jauh lebih tinggi dibanding kedelai, membuat biaya produksi minyak sawit lebih rendah.

Gambar 1. Prosentase Produksi Minyak Dunia (Oil World Annual 2006).

Gambar 1. Prosentase Produksi Minyak Dunia (Oil World Annual 2006).

Peningkatan kebutuhan ini dapat diamati dalam Oil World Annual 2006. Produksi CPO di tahun 2005 telah mencapai 24,1% dari total produksi minyak sayur dunia, sedikit lebih tinggi daripada minyak kedelai. Saat ini, dari total kebutuhan dunia, Indonesia mampu           mengekspor sekitar 41%, dengan importir terbesar berasal dari RRC, Uni Eropa, dan India. Industri kelapa sawit nasional memang mengalami perkembangan menggembirakan. Terbukti dalam 20 tahun terakhir (1985–2005), pertambahan kebun kelapa sawit mencapai lima juta hektar.

Pertambahan luasan kebun kelapa sawit ini meningkat dari tahun ke tahun, pada tahun 1969 luas areal kelapa sawit Indonesia hanya sekitar 119.520 hektar. Pada tahun 1979, luas tersebut telah berlipat ganda menjadi 257.814 hektar. Sejak tahun 1979 hingga tahun 1990, laju pertambahan areal kelapa sawit Indonesia mencapai rata-rata hampir 80.000 hektar per tahunnya. Luas areal tanam kelapa sawit di Indonesia yang terus bertambah mempengaruhi jumlah produksi CPO dari tahun ke tahun.

Hasilnya, pada periode tahun 1980 hingga tahun 1990, laju produksi CPO Indonesia rata-rata per tahun mencapai sekitar 200.000 ton. Produksi CPO Indonesia pada tahun 1995 telah mengalami peningkatan hingga mencapai lebih dari 5 juta ton per tahun. Pada tahun 2002, produksi CPO Indonesia meningkat menjadi 11 juta ton. Kemudian di tahun 2005, meningkat lagi menjadi lebih dari 13 juta ton. Melihat dari hasil trimester pertama, diperkirakan pada tahun 2007 akan menembus angka lebih dari 16 juta ton.

 

Gambar 2. Grafik produksi minyak sawit Malaysia (     ) dan Indonesia (     )  tahun 2001-2006                     (Oil World Annual 2006).

Gambar 2. Grafik produksi minyak sawit Malaysia ( ) dan Indonesia ( ) tahun 2001-2006
(Oil World Annual 2006).

 

Gambar 3. Grafik kontribusi  Malaysia (     ) dan Indonesia (      ) terhadap minyak sawit dunia                     tahun 2001-2005 (Oil World Annual 2006)

Gambar 3. Grafik kontribusi Malaysia (- ) dan Indonesia (- ) terhadap minyak sawit dunia
tahun 2001-2005 (Oil World Annual 2006)

Industri perkebunan kelapa sawit lebih banyak dikelola oleh pihak swasta dan menunjukkan perkembangan pesat sejak 1990-an. Pada tahun 2003, swasta menguasai 57% perkebunan, 30% merupakan perkebunan rakyat, dan 13% perkebunan negara. Beberapa perusahaan besar terlihat menguasai bidang ini, sebut saja PT Astra Agro Lestari, PT Minamas dan PT SMART Tbk, yang merupakan pemain-pemain utama di bidang ini.

 

Gambar 4. Grafik perusahan-perusahaan besar perkebunan kelapa sawit di Indonesia dan      luas tanam baik untuk tanaman menghasilkan maupun belum menghasikan       (Anon, 2006).

Gambar 4. Grafik perusahan-perusahaan besar perkebunan kelapa sawit di Indonesia dan
luas tanam baik untuk tanaman menghasilkan maupun belum menghasikan
(Anon, 2006).

Namun sayangnya pemanfaatan potensi di Indonesia hanya berkisar pada industri hulu. Sampai saat ini minyak sawit Indonesia sebagian besar masih diekspor dalam bentuk CPO. Di dalam negeri, minyak sawit diolah menjadi produk pangan, terutama minyak goreng. Secara teknis, CPO dapat diolah menjadi berbagai jenis produk hilir, baik pangan maupun non pangan, yang mempunyai nilai tambah yang tinggi. Namun, industri oleokimia Indonesia kurang berkembang terutama bila dibandingkan dengan Malaysia sebagai produsen minyak sawit terbesar dunia. Adapun penyebab kurang berkembangnya industri oleokimia Indonesia adalah besarnya investasi industri tersebut serta terbatasnya pengetahuan dan kemampuan pengembangan teknologi.

Produk kelapa sawit memang tidak terbatas untuk kebutuhan pangan. Pada produk non-pangan kelapa sawit juga menjadi andalan, misalnya: sabun, berbagai kosmetika, dan lilin, termasuk di antaranya sebagai bahan bakar alternatif biodiesel ataupun biopremium yang sedang gencar-gencarnya dikembangkan di Indonesia. Dapat dikatakan hampir semua yang dihasilkan dalam pengolahan kelapa sawit, termasuk limbah yang dikeluarkan, dapat dimanfaatkan, misalnya limbah cair dari pengolahan CPO yang dikenal dengan istilah POME (Palm Oil Mill Effluent) dimanfaat sebagai pupuk maupun biogas; cangkang kelapa sawit dimanfaatkan sebagai bahan bakar dan karbon aktif; serabut dan kayu untuk bahan dasar kertas, peralatan rumah tangga (perabot, tempat tidur, dan lain sebagainya), dan banyak lainnya yang memungkinkan tidak adanya limbah dari komoditi ini, sehingga komoditi ini dapat disebut  sebagai “zero waste industry”.

3. Produk Utama dan Potensi Kandungan Minor Lain

Bagian yang paling populer untuk diolah dari kelapa sawit adalah buahnya. Bagian daging buah menghasilkan minyak kelapa sawit mentah yang diolah menjadi bahan baku minyak goreng, margarin, dan lain-lain. Buah diproses dengan membuat lunak bagian daging buah pada temperatur 90°C. Daging yang telah melunak kemudian dipisahkan dari bagian cangkang dengan dikempa (pressing) pada mesin silinder berlubang dan vakum untuk menarik air, sehingga dihasilkan CPO. Skema proses produksi disajikan pada Gambar 5. CPO berbentuk lemak semi padat dalam temperatur kamar yang terdiri atas 2 fraksi yaitu 70–80% dalam bentuk cair dikenal sebagai olein, dan 20–30% dalam bentuk padat dikenal sebagai stearin.

 

Gambar 5. Proses pengolahan kelapa sawit menjadi CPO

Gambar 5. Proses pengolahan kelapa sawit menjadi CPO

Ditinjau dari komposisi kimianya, minyak sawit berisi sebagian besar gliserida-gliserida yang tersusun dari beberapa asam lemak, dengan trigliserida-trigliserida merupakan komponen utama, sedikit digliserida-digliserida dan monogliserida. Minyak sawit juga berisi unsur-unsur kecil lain, seperti asam lemak bebas dan komponen-komponen nongliserida. Komposisi ini menentukan karakteristik-karakteristik fisik dan kimia minyak tersebut.

Selain itu, minyak kelapa sawit juga mengandung kira-kira 1% komponen-komponen kecil: karotenoid, vitamin E (tokotrienol-tokotrienol dan tokoferol-tokoferol), sterol-sterol, fosfolipid-fosfolipid, glikolipid, terpenoid dan hidrokarbon alifatik, dan pengotor lainnya. Kandungan utamanya adalah vitamin E dan karotenoid, kedua-duanya memiliki potensi yang sangat penting.

Kandungan karoten berbeda menurut varietas dan diduga juga berbeda menurut kematangan buah. Kandungan b-karoten kelapa sawit pada varietas Tenera berkisar antara  500–700 ppm, sedangkan varietas Dura yang berasal dari Nigeria berkisar antara  800–1600 ppm. Ditinjau dari struktur molekul, karotenoid minyak sawit terdiri dari beberapa jenis dengan beberapa varietas yang berbeda, seperti pada tabel di bawah ini.

Tabel 1. Senyawa karotenoid yang terkandung dalam beberapa varietas  kelapa sawit

No.

Komponen

Komposisi (%)

Elaeis guineensis (E.g)

Elaeis oleifera (E.o)

(E.g   ×   E.o)

Tenera

Pisifera(P)

Dura(D)

M × P

M × D

MD × P

1

Phitoen

1.27

1.68

2.49

1.12

1.83

2.45

1.30

2

Cis – b – Karoten

0.68

0.10

0.15

0.48

0.38

0.55

Trace

3

Phitofluen

0.06

0.90

1.24

Sedikit

Sedikit

0.15

0.42

4

b – Karoten

56.02

54.39

56.02

54.08

60.53

56.40

51.64

5

a– Karoten

35.06

33.11

34.35

40.38

32.78

36.40

36.50

6

Cis – α – Karoten

2.49

1.64

0.86

2.30

1.37

1.38

2.29

7

z –Karoten

0.69

1.12

2.31

0.36

1.13

0.70

0.36

8

g – Karoten

0.33

0.48

1.10

0.08

0.23

0.26

0.19

9

¶– Karoten

0.83

0.27

2.00

0.09

0.24

0.22

0.14

10

Neurosporen

0.29

0.63

0.77

0.04

0.23

0.08

0.08

11

b – Zeakaroten

0.74

0.97

0.56

0.57

1.03

0.96

1.53

12

a – Zeakaroten

0.23

0.21

0.30

0.43

0.35

0.40

0.52

13

Likopen

1.30

4.50

7.81

0.07

0.05

0.04

0.02

Total (ppm)

673

428

997

4592

2324

2324

896

Sumber : Choo Yuen May (1994)

Dibandingkan dengan berbagai sumber karotenoid tumbuhan, kelapa sawit merupakan yang paling tinggi di antara sumber-sumber lainnya, yaitu sekitar 15 kali lebih tinggi dari retinol ekuivalen yang terkandung dalam wortel.

 Tabel 2. Kandungan karotenoid beberapa sumber dalam mg retinol ekivalen

Jenis

Retinol Ekivalen (mg /100 g)

Jeruk

21

Pisang

50

Wortel

400

Minyak Sawit Merah

5,000

Crude Palm Oil

6,700

Sumber : Anon (2006)

Karoten, dalam hal ini b-karoten, merupakan salah satu senyawa antioksidan alami. Antioksidan berfungsi sebagai quencher singlet oksigen dan penangkal radikal bebas. Singlet oksigen adalah tingkat tenaga molekul O2 yang sangat reaktif. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa singlet oksigen yang berbahaya ini dapat dinonaktifkan oleh b-karoten. Selain itu, b-karoten juga mampu bereaksi dengan radikal bebas dengan proses transfer muatan (elektron). Pada reaksi ini akan diperoleh radikal bebas dari b-karoten yang relatif lebih stabil dan tidak memiliki energi yang cukup untuk dapat bereaksi dengan molekul lain membentuk radikal baru. Potensi b-karoten sebagai antioksidan dan prekursor vitamin A, tidak hanya dapat diperoleh dari CPO yang saat ini masih memberikan keuntungan yang menjanjikan. Beberapa penelitian membuktikan bahwa karoten juga dapat diekstrak dari serabut (fiber) yang merupakan sisa (limbah) pengolahan kelapa sawit dan pada produksi biodiesel.

4. Penutup

Dari jabaran di atas, tampak jelas bahwa penggalian potensi industri kelapa sawit masih memiliki kendala-kendala seperti keterbatasan informasi, pengetahuan dan teknologi yang membuat perusahaan-perusahan besar di Indonesia masih enggan untuk melirik hasil-hasil lain yang tidak kalah potensinya dibandingkan CPO maupun minyak goreng. Sebagai catatan dari tiap metrik ton CPO yang berharga 440 dollar AS per metrik ton, pengusaha sawit nasional mampu mengantongi sekitar Rp 143 per kilogram.

Keuntungan yang telah diperoleh dari CPO yang cukup besar membuat pengusaha-pengusaha lokal terkesan enggan untuk mengembangkan industri hilir. Tetapi kenyataan yang ada, industri tesebut berpotensi menghasilkan keuntungan yang lebih besar.  Selain itu, kendala yang dihadapi  adalah terbatasnya pengetahuan dan teknologi. Kendala tersebut dapat diatasi melalui kerjasama yang komprehensif antara peneliti-peneliti baik swasta, pemerintah  maupun dari kalangan akademik. Kerjasama ini membantu perkembangan industri kelapa sawit dan di sisi lain akan memperkecil gap antara lembaga akademis dan keinginan industri, dengan menghasilkan penelitan-penelitian yang lebih aplikatif. Dengan begitu diharapkan perusahaan lokal mulai memperhatikan produksi hilir, sehingga potensi perkebunan yang telah ada bergerak menuju pengolahan sendiri; baik hasil utama dalam hal ini minyak goreng maupun potensi-potensi lainnya seperti karoten, vitamin E dan lain sebagainya.

Muhammad Rio Syahputra  dan Leenawaty Limantara / Vol.1, No. 1, Tahun 2007

About dhanang

Membuat ilmu kehidupan menjadi hidup lebih hidup

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Scroll To Top