Home / Berita / Ekspedisi / Nekat yang Menjadi Berkat #2
Nekat yang Menjadi Berkat  #2

Nekat yang Menjadi Berkat #2

Sebelumnya…

Esok paginya, kami bersiap berangkat ke sekolah untuk melapor. Rumah yang kami tempati malam itu sudah penuh dengan tamu, mereka di antaranya Kepala Distrik dan para aparat kampung. Sungguh ramah penduduk setempat, sampai-sampai mau menuju ke sekolah pun mereka mengantar kami.
Penduduk Folley dibagi menjadi dua bagian, penduduk asli dari suku Matbat beragama Kristen, dan yang pendatang dari suku Buton beragama Islam. Mereka hidup rukun dan damai, mereka saling membantu satu sama lainnya. Kampung itu sangat indah, bahkan lebih indah dari yang kubayangkan. Semua rumah tertata rapi dan terjaga kebersihannya. Mayoritas penghasilan penduduk setempat adalah mencari ikan dan berkebun, sedangkan para wanitanya selain menjadi ibu rumah tangga mereka juga membuat usaha kecil-kecilan seperti membuat kue, minyak kelapa ataupun menganyam tikar. Setiap pagi, ada saja orang yang berkeliling menjajakan kue, ikan maupun sayuran. Makin betah rasanya aku hidup di sana. Hidup di sebuah pulau, di pinggir pantai yang bersih, dan berpasir putih.
Folley memiliki berbagai macam keunikan yang sebelumnya belum pernah aku lihat. Beberapa pohon di sana bertuliskan “sasi gereja”, baik itu pohon sirih, kelapa, mangga, bahkan di pantai pun banyak yang bertuliskan sasi gereja. Sebuah tulisan yang ditulis di sebuah kayu berukuran 30 cm, dan biasanya di paku di sebuah pohon atau patok di pantai. Setiap daerah yang ada tulisan sasi gereja tersebut bertanda kalau daerah tersebut dalam masa konservasi atau perlindungan, dan tidak ada seorangpun yang berani melanggarnya, baik mereka yang kristen ataupun yang muslim, sebelum masa sasinya dilepas.
Sebagian besar wilayah Folley adalah pantai, oleh sebab itu banyak sekali kelapa yang hidup dan tumbuh subur. Selain berkebun dan mencari ikan, penduduk juga banyak yang memanfaatkan hasil kelapa dengan membuatnya menjadi kopra dan dijual di pengepul yang datang tiap sebulan sekali ataupun pada pemilik toko besar di sana.
Ya…. di Folley juga ada sebuah toko besar yang menyediakan berbagai kebutuhan pokok, kebutuhan laut, sandang maupun papan. Toko tersebut menyediakan segala yang kita butuhkan, dengan harga yang relatif sama dengan harga di Sorong. Bahkan kita pun bisa menelpon dengan wartel yang telah disediakan, meskipun dengan harga yang mahalnya selangit karena menggunakan satelit, tetapi cukup mengobati rasa rinduku kepada keluarga.
Di samping kanan-kiri Kampung Folley terdapat kampung-kampung lain yang banyak juga penduduknya. Selain tempat bermukim, di Misool juga terdapat banyak tempat indah nan eksotis yang wajib untuk dikunjungi. Contohnya saja Gua Keramat. Untuk menuju ke sana, dari Folley membutuhkan waktu satu jam perjalanan menyeberang laut. Tetapi di sepanjang perjalanan, kita tidak akan dibuat menyesal, karena kita akan disuguhi suatu pemandangan bawah laut yang menampilkan beningnya air dan indahnya karang berwarna-warni yang bisa kita nikmati hanya dengan duduk di atas perahu. Ribuan ikan kecil yang berlompatan akan mengiringi perjalanan kita, ikan besarpun tampak menari berliuk-liuk di bawah permukaan air. Sungguh pemandangan yang belum pernah kita lihat sebelumnya, begitu tenang, dan begitu mendamaikan. Tak sampai di situ saja, saat kita melihat ke atas kita akan dibuat terperangah dengan keindahan tebing-tebing batu yang seolah diiris seperti kue lapis. Begitu indahnya……..

Perjalanan menuju goa keramat

Perjalanan menuju goa keramat

Keindahan itu tidak habis sampai di situ saja, di saat kita sudah mendekati goa kita akan melihat tulisan arab berlafadz Allah di atas goa tersebut. Saat kita masukpun kita tidak akan menyangka, pada pintu gerbang yang kita lewati, di atasnya ada sebuah makam leluhur pembawa agama Islam yang entah sudah berapa tahun umurnya, di bibir goa terdapat seperti kolam jernih yang bagi siapapun melihatnya pasti ingin langsung menyeburkan diri dan berenang di kolam rasa asin itu. Kandungan garam yang tinggi membuat kita mudah sekali terapung di air itu.

Goa Keramat

Goa Keramat

Konon katanya, kalau kita beruntung kita akan mendengarkan suara musik tambur dari dalam goa tersebut. Terdengar menyeramkan, tapi membuatku semakin penasaran. Kata penduduk setempat, dulu banyak terdapat tulang manusia di dalam goa tersebut. Tapi karena banyak turis luar negeri yang sudah datang berkunjung ke tempat tersebut, satu demi satu tulang-tulang tersebut hilang. Sekarang hanya tinggal sejarah dan makam keramat yang masih tertinggal di sana. Tapi hal itu tak sedikitpun mengurungkan niatku untuk berkunjung kembali ke Goa Keramat tesebut.
Ternyata Nekatku menjadi berkat tersendiri bagiku karena sekarang aku bangga bisa menjadi bagian dari alam Raja Ampat yang indah ini.

Kuwati/MB2012

About dhanang

Membuat ilmu kehidupan menjadi hidup lebih hidup

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Scroll To Top