Home / Berita / Ekspedisi / Ditemani Sayur Kangkung dan Nasi Putih di Teluk Mayalibit
Ditemani Sayur Kangkung dan Nasi Putih di Teluk Mayalibit
Gambar 1. Bersama mahasiswa ku di jembatan Teluk Mayalibit

Ditemani Sayur Kangkung dan Nasi Putih di Teluk Mayalibit

Minggu, 10 Maret 2013
Setelah melewati 2 jam penerbangan dari Makasar, akhirnya, tiba kota Sorong propinsi ujung timur Indonesia. Aku bergegas, keluar bandara menjumpai mahasiswaku yang telah menjemputku. Benar, pak abdul dan pak bustam sudah menunggu, lalu kami langsung menuju pelabuhan untuk melanjutkan perjalanan dengan kapal cepat menuju kota Waisai, ibu kota kabuaten Raja Ampat. Perjalanan ke Waisai dari kota Sorong dengan kapal cepat ditempuh dalam waktu 2 jam, satu jam lebih cepat dari kapal kayu. Laut tenang, jejeran pulau-pulau di sebelah kanan dan kiri kapal membuat aku makin menikmati perjalanan ini. Canda tawa para penumpang lain di atas kapal membuat suasana cukup menghibur, sehingga tidak terasa kecepatan perlahan-lahan berkurang karena beberapa saat lagi akan merapat ke dermaga kota Waisai.Setelah memerikasa semua barang bawaan, kami turun dari kapal, mencari taksi menuju rumah makan untuk mengisi perut yang belum terisi sejak pagi dini hari dari Salatiga. Sepiring nasi putih, satu ekor ikan botila bakar dan colo-colo (sambal lokal) membuat aku terdiam sejenak tanpa kata terucap, tapi dalam hatiku sempat berkata ”terima kasih, kami semua telah dikenyangkan pada hari ini”. Sebatang rokok dan secangkir kopi panas, menjadi hidangan penutup yang menyegarkan bagiku untuk mengakhiri aktivitas hari ini.
Rekan-rekan mahasiswaku mengantar aku menuju hotel yang telah dipesan, setelah itu mereka kembali menuju tempat tinggal masing-masing untuk beristirahat. Aku mengeluarkan barang bawaanku, meletakan di meja kamar lalu bergegas ke kamar mandi membersihkan diri yang penuh keringat bercampur campuran debu. Setelah itu, aku menghidupkan laptopku, membaca agenda kerja esok hari. Beberapa saat berselang, hal yang aku tunggu-tunggu akhirnya datang juga yaitu rasa ngantuk. Lalu aku akhiri hari pertama di Waisai melalui tidur malam yang lelap.
Peremuan dengan Kepala Dinas Pendidikan

Senin, 11 Maret 2013
Sinar matahari masuk melalui kaca jendela kamar, membangunkan aku dari tidur pulas. Aku terbangun, badan terasa segar. Setelah berbenah dan membersihkan diri, aku berpakain rapi dan menuju lobi hotel menikmati sarapan pagi nasi kuning, ikan tongkol dan secangkir kopi panas. Ketika waktu menunjukan pukul 8.30, mahasiswaku (pak Tamrin ) datang menjemput, kami hendak pergi ke kantor dinas pendidikan Kabupaten Raja Ampat. Kehadiranku di Waisai adalah mengantar mahasiswa utusan Kabupaten Raja Ampat yang kuliah di program Magister Biologi-UKSW Salatiga. Mereka baru saja merampungkan kegiatan perkuliahan semalam dua semester di Salatiga. Kini mereka kembali lagi ke Raja Ampat untuk melakukan penelitian selama satu tahun. Karena itu selaku wali studi mahasiswa, aku perlu mendampingi dan melaporkan kegiatan mereka baik yang telah dilakukan selama di salatiga, dan yang akan di lakukan selama berada di Raja Ampat kepada Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Raja Ampat.
Tepat jam 9, aku tiba di kantor Dinas Pendidikan Raja Ampat. Hampir semua mahasiswa juga telah hadir. Mereka senang melihat kehadiranku, bahkan ada mahasiswa yang nyeletuk ”pak apakah kita jadi kuliah di ruang G301? ” spontan riuh ketawa mahasisa terdengar .
Beberapa saat kemudian Kepala Dinas Pendidikan mempersilahkan kami masuk ke ruang rapat. Sekretaris Dinas Pendidikan pak Herman membaca agenda pertemuan, lalu memberi kesempatan pertama kepadaku melaporkan kegiatan proses belajar mahasiswa Raja Ampat. Kesempatan ini aku gunakan untuk melaporkan dua hal yaitu, proses belajar mereka selama lima bulan di Salatiga dan yang kedua adalah rencana kegiatan mereka di Raja Ampat selama satu tahun. Setelah saya menyampaikan semua itu, giliran ibu Kepala Dinas menyampaikan sambutan singkatnya. Beliau menyapaikan rasa terima kasih kepada kami pihak Magister Biologi-UKSW yang telah membimbing mahasiswa Raja Ampat dari awal hingga kembali lagi ke Raja Ampat. Beliau sangat mendukung semua kegiatan yang menyangkut dengan proses belajar dan penelitian mahasiswa, beliau juga berharap agar di bulan juli 2014, semua mahasiswa sudah merampungkan studinya dan kembali mengabdi sepenuhnya di tempat kerja masing-masing di Raja Ampat. Hal-hal yang menyangkut dengan urusan administrasi kelembagaan akan dibicarakan terpisah dari pertemuan ini, namun pada prinsipnya kegiatan ini akan didukung sepenuhnya oleh Dinas Pendidikan, termasuk dengan rencana kegiatan seminar nasional di kota Waisai. Akhirnya pertemuan ini ditutup oleh ibu Kepala Dinas Pendidikan, sambil berharap kerjasama dengan Magister Biologi dapat di kembangkan lagi untuk hal lain di masa mendatang.
Setelah pertemuan, aku mempersilahkan kepada mahasiwa yang hendak menanyakan hal-hal lain sehubungan dengan penelitian sebelum aku meninggalkan Raja Ampat. Hampir satu jam kami berdiskusi mengenai hal-hal teknis yang menyangkut dengan penelitian dan penulisan artikel ilmiah serta proses bimbingan jarak jauh. Setelah itu, sebagian mahasiswa meninggalkan ruang pertemuan, karena mereka masih mengurus hal lain. Tinggal beberapa mahsiswa bersama ku. Lalu muncul ide, bagaimana kalau kita menijau lokasi penelitian dari dua orang mahasiswa (Ibu Ida dan Ibu Arwakon) di teluk mayalibit. Usulan ini baik menurutku, selaku wali, ini kesempatan baik untuk menyaksikan langsung lokasi penelitian mahasiswa sehingga dapat menjelaskan kepada dosen pembimbing mereka ketika kembali ke Salatiga.
Aku bertanya kepada mereka, bagaimana kita bisa sa

mpai di tempat itu? Spontan kedua mahasiswa tersebut mengusulkan ”pak! tunggu saja di hotel, kami akan mengurus transportasinya menuju ke lokasi penelitian kami”. Aku kembali lebih dahulu ke hotel, ganti baju, menyiapkan kamera sambil menunggu jemputan dari rekan-rekan mahasiswa.

Menuju teluk mayalibit
Sekitar pikul 15.00 mobil jemputan datang, kami tujuh orang berangkat menuju teluk mayalibit. Dalam perjalanan aku sering membenahi posisi duduk karena jalan belum mulus. Namun semua itu tidak aku pikirkan karena terkesimah dengan keindahan alam, lebatnya hamparan hutan yang terletak antara satu kampung dengan kampung yang lain. Aku sempat melihat pada bagian tertentu, warna dan tekstur tanah sangat berbeda. Ada yang kaya lapisan humus berwarna hitam, dan tanah yang berwarna merah bagaikan batu bata. Aku juga melihat selama perjalanan ada beberapa kelompok masyarakat yang membuat batu bata di sepanjang jalan. Aku sempat bertanya dalam hati sepertinya hamparan tanah yang begitu luas, tapi hanya dihuni oleh sedikit orang. Perkampungan yang kami lewati, dihuni oleh hanya sedikit orang. Tidak terasa, waktu telah pukul 16.00 kami tiba di teluk Mayalibit, kami berhenti tepat di depan SMP tempat ibu Ida dan Arwakom bekerja.

Begitu mobil berhenti, kami langsung berhamburan keluar, menikmati keindahan teluk Mayalabit yang benar-benar mempesona. Aku hanya bisa berkata dalam hati, alam Raja Ampat sangat eksotis, liar dan mengagumkan. Teluk mayalibit adalah teluk tertutup yang yang langsung bersinggungan dengan garis katulistiwa, di Kabupaten Raja Ampat. Kami berjalan menuju jembatan, sambil menikmati panorama alam di sore hari. Jepretan kamera hampir tiada henti mengabadikan gambar alam yang terpampang indah dihadapan kami.

Menjelang matahai terbenam, kami melihat beberapa masyarakat setempat menuju perahu sampan mereka, lalu perlahan-lahan bergerak menuju ke tengah teluk. Aku bertanya kepada ibu Ida, siapa mereka? ”Mereka adalah nelayan, mereka hendak menangkap ikan kembung atau ikan lema menurut bahasa masyakarat setempat”. Menarik bagi aku adalah, cara mereka (nelayan setempat) menangkap ikan lema masih menggunakan cara tradisional (lihat kotak hitam). Rasa penasaran, membuat kami menunggu di atas jembatan sambil bercerita dan sesekali melihat sinar lampu perahu nelayan yang bergerak dari satu tempat ke tempat lainnya.

 

Gambar 2. Teluk Mayalibit di kala senja hari. Merupakan teluk dengan mulut yang sempit,  lebarnya sekitar 350 m (panah), diapit oleh dinding bukit penuh tumbuhan. Tampak  dari kejauhan suasana perkampungan yang tenang. (koleksi foto JCM)

Gambar 2. Teluk Mayalibit di kala senja hari. Merupakan teluk dengan mulut yang sempit,
lebarnya sekitar 350 m (panah), diapit oleh dinding bukit penuh tumbuhan. Tampak
dari kejauhan suasana perkampungan yang tenang. (koleksi foto JCM)

Menurut ibu Ida dan ibu Arwakom, biasanya nelayan akan merapat ke tepi pantai apa bila mereka telah berhasil mendapat tangkapannya, dan itu sekitar pukul 23.00. Namun sampai pukul 24.00 tengah malam, beluam ada satupun nelayan merapat ke tepi, perut mulai keroncongan, tidak ada lagi warung makan yang buka. Akhirnya kami kembali ke rumah guru di sekitar sekolah lalu Ibu ida dan ibu Arwakom membuat pisang goreng dan kopi + teh panas untuk mengganjal perut kami. Walapun masih lapar, kami belum mau kembali ke Waisai; kami masih berharap nelayan segera merapat, agar kami bisa membeli ikan lalu makan ikan bakar. Sampai jam 1.30 dini hari, nelayan pun belum merapat, kami semua makin lapar, bercampur dengan ngantuk yang tak tertahankan. Akhirnya dengan cekatan ibu ida dan ibu kor memasak sayur kangkung lalu kami makan dengan nasi putih. Setelah makan pagi dini hari, perut terasa kenyang dan rasa kantuk pun makin menjadi, ibu Ismi tidak tahan, ia tertidur di kursi. Akhirnya kami putuskan kembali ke Waisai, lalu kami berjalan menuju mobil yang parkir dekat jembatan. Sampai di jembatan kami melihat nelayan telah merapat dan membawa hasil tangkapan yang banyak, kami pun tergerak hati bertahan sebentar untuk membeli ikan dengan harapan langsung dibakar saat itu juga. Namun kami semua tidak dapat berkompromi dengan rasa ngantuk yang telah menguasai, akhirnya kami semua berubah pikiran. Kami hanya membeli ikan untuk dibawa ke Waisai. Akhirnya tujuan kami semula ke teluk mayalibit untuk makan ikan bakar tidak terkesampaian, walapun demikian aku tidak menyesal, bagaimana pun aku telah ditemani sayur kangkung dan nasi putih dikala pagi dini hari di teluk mayalibit. Terima kasih rekan-rekan mahasiswa ku.
Pulang ke Salatiga

Selasa 13 Maret 2013

Aku bangun kesiangan, Badanku masih terasa lelah, mataku masih terasa berat, walapun jam telah menunjukkan pukul 10.00 pagi. Sambil ditemani secangkir kopi panas, aku mencoba merenung, betapa menantang tingkat perjuangan hidup para mahasiswaku yang juga berprofesi sebagai guru yang akan melakukan penelitian di teluk mayalibit. Mereka harus berjuang untuk mendapakan akses informasi, literatur ditengah-tengah keadaan yang masih sulit dijamah oleh jalur komunikasi tanpa maupun dengan kabel. Jika mereka butuh, mereka harus menempuh perjalanan panjang dan sulit ke Waisai, itupun belum pasti dapat karena jaringan komunikasi dan internetpu tidak selancar dan secepa di Salatiga. Aku dapat membanyangkan bagaimana dengan mahasiswaku yang lain, yang akan melakukan penelitian juga di pulau-pulau kecil di kawasan Raja Ampat; yang komunikasinya hanya dapat dijangkau oleh radiogram, dan akses ke kota Waisai kadangg-kadang hanya ada seminggu sekali, dan mahal pula?
Aku tidak mempersoalkan mengapa mereka tinggal di wilayah yang jauh dari akses informasi, namun yang aku kagumi adalah bagaiamana daya juang mereka untuk beradaptasi pada kondisi yang menantang seperti itu. Dalam kondisi demikian mereka begitu menikmatinya, dan dengan penuh pengabdian mereka masih mau berbagi pengetahuan mereka untuk mencerdaskan masyarakat Indonesia di belahan paling Timur. Kini aku mengerti mengapa mereka tidak merasa kesulitan beradaptasi ketika mengkuti proses belajar di Salatiga? mereka selalu semangat! Rupanya mereka telah memiliki kompetensi dasar yang kuat untuk beradaptasi dengan lingkungan belajar yang ekstrim. Aku menjadi mengerti dan mendapat alasan fundamental mengapa para guru dari Raja Ampat perlu melanjutkan studinya di Magister Biologi-UKSW Salatiga? Adalah hak mereka untuk mendapatkan pengetahuan, karena mereka telah menjadi orang Indonesia. Renungan ini kubawa terus selama perjalanan pulang ke Salatiga di esok harinya, Rabu 14 Maret 2013. Ups. nyangkut semalam di Jakarta. Baru besok hari kamis aku tiba di Salatiga. Sungguh perjalanan yang mengasyikan.

Jub/MB

About dhanang

Membuat ilmu kehidupan menjadi hidup lebih hidup

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Scroll To Top