Home / Bios Cetak / Kepel, Buah Keraton Berpotensi Bahan Kontrasepsi
Kepel, Buah Keraton Berpotensi Bahan Kontrasepsi

Kepel, Buah Keraton Berpotensi Bahan Kontrasepsi

Kebutuhan alat kontrasepsi merupakan permasalahan pemerintah yang sedang marak akhir-akhir ini, sejalan dengan munculnya masalah dalam bidang kependudukan dan keluarga berencana (KB). Peningkatan kembali fertilitas, peningkatan angka kematian ibu karena kehamilan dan melahirkan, serta pertambahan jumlah aborsi yang tidak aman karena kehamilan yang tidak diinginkan (unwanted pregnancy) merupakan penyebab tingginya kebutuhan KB yang tidak terpenuhi atau unmet need.

Unmet need dihitung dari persentase pasangan usia subur (PUS) yang tidak ingin mempunyai anak namun saat ini belum berKB dan PUS yang hamil tetapi sebenarnya tidak menginginkan kehamilan tersebut. Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) melaporkan bahwa diperlukan upaya yang sangat keras untuk menurunkan unmet need, karena diperkirakan penduduk Indonesia akan mencapai 255 juta pada tahun 2015.

Harga alat KB yang dirasa cukup mahal dan terbatasnya ketersedian alat kontrasepsi merupakan salah satu faktor penyebab tingginya angka unmet need di kalangan PUS. Di samping itu, rendahnya keinginan PUS untuk melaksanakan program KB disebabkan juga karena timbulnya efek samping akibat penggunaan alat kontrasepsi yang berkepanjangan, seperti obesitas, hiperpigmentasi (melasma), hipertensi, dan infertilitas. Realita tersebut sekaligus membuka peluang besar untuk menggali dan memanfaatkan tanaman herbal sebagai bahan kontrasepsi yang murah, efektif, dan tidak menyebabkan efek samping.

Kepel (Stelechocarpus burahol) famili Annonaceae merupakan salah satu flora Indonesia yang berpotensi untuk dijadikan bahan kontrasepsi. Daging buah kepel dipercaya mempunyai khasiat mencegah kehamilan atau sebagai alat KB. Kandungan alkaloid pada buah kepel menyebabkan gangguan kehamilan. Siddiqi et al. (2008) melaporkan bahwa daging buah kepel mengandung senyawa fitoestrogen (tergolong senyawa isoflavon) yang mempunyai efek antiimplantasi, sehingga berguna bagi pengaturan jumlah kelahiran. Fitoestrogen pada buah kepel merupakan sebuah potensi yang sangat besar yang perlu dikaji aspek-aspek biologisnya. Hal ini sangat penting dalam upaya pemenuhan kebutuhan steroid, utamanya sebagai bahan kontrasepsi maupun sebagai bahan obat-obatan. Akan tetapi, sampai saat ini efek antimplantasi daging buah kepel belum banyak dibuktikan secara ilmiah. Pada artikel ini, penulis mencoba mengulas potensi kepel sebagai bahan kontrasepsi.

 

Mengenal kepel

Tidak banyak masyarakat yang tahu tentang keberadaan pohon ini, pasalnya tanaman ini hanya terkenal di kalangan keraton, sehingga kini dikategorikan sebagai tanaman langka (endangered spesies) di Indonesia. Pohon Kepel dipercaya mempunyai nilai filosofi adhiluhung, bahkan berdasarkan SK Gubernur DIY No. 385/KPTS/1992 tanaman ini ditetapkan sebaga/khas provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Tanaman yang dikenal dengan nama lokal kechundul ini dijadikan lambang kekuatan masyarakat DIY yang bermakna sebagai gantungan rakyat, permohonan belas kasih dan berkah raja agar bisa diterima untuk mengabdi. Tanaman ini masih satu keluarga dengan kelompok srikaya (Annona squamosa) yaitu famili Annonaceae. Kepel memiliki nama latin Stelechocarpus burahol, sedangkan di beberapa daerah lain ada yang menyebut kecindul, simpol, cindul (Jawa), oho (Bali), Burahol, Turalak (Sunda), dan dalam istilah Inggris dikenal (Keppel) Apple.

Tinggi pohon kepel bisa mencapai 25 m dengan garis tengah batang mencapai 40 cm, berwarna coklat-kelabu tua sampai hitam, yang secara khas tertutup oleh banyak benjolan yang besar. Tajuk teratur berbentuk kubah meruncing ke atas (seperti cemara), sebagaimana terlihat pada Gambar 1a. Daun kepel berbentuk lonjong-jorong sampai bundar-telur/bentuk lanset, tidak berbulu, merontal tips. Bunga kepel berkelamin tunggal, muncul pada tonjolan-tonjolan di batang.

Buah kepel bertipe mirip buah buni (berrylike ripe carpels), panjang tangkai buah mencapai 8 cm. Sesuai dengan namanya “kepel” (bahasa Jawa) yang berarti kepalan tangan, buah kepel juga berukuran sekepalan tangan dewasa, berbentuk hampir bulat dengan diameter 5–6  cm (Gambar 1b). Buah yang matang berwarna kecoklat-coklatan, daging buahnya berwarna coklat, berisi sari buah, dapat dimakan. Kepel memiliki ukuran biji cukup besar (panjang sekitar 3 cm), sekitar 27% dari ukuran buah keseluruhannya, biji letaknya tidak beraturan sedangkan bagian buah yang yang dapat dimakan hanya sekitar 49%.

kepel

 

Gambar .      Deskripsi tanaman kepel (Stelechocarpus burahol): (a). habitus, (b) buah yang menempel di batang pohon (Foto: Suparmi, 2012)

 

Pemanfaatan Tanaman Kepel sebagai Obat Tradisional

Bagian tanaman kepel yang banyak dimanfaatkan adalah buahnya. Buah kepel yang sudah matang memiliki rasa mirip dengan rasa mangga, sehingga dapat dimakan dalam keadaan segar setelah dikupas. Kayu pohon kepel dapat digunakan sebagai bahan industri atau bahan perabot rumah tangga dan bahan bangunan yang dapat tahan lebih dari 50 tahun. Daun kepel bisa juga dimanfaatkan untuk mengatasi asam urat. Lalap daun kepel mampu menurunkan kadar kolesterol.

Kepel merupakan jenis tanaman penghasil wangi-wangian, hal ini telah banyak dimanfaatkan sejak dahulu. Secara tradisional kepel telah digunakan sebagai bahan parfum, khususnya di kalangan keraton, dengan mengonsumsi buahnya dapat menyebabkan bau keringat menjadi wangi, bau nafas menjadi harum, bahkan dapat mengharumkan bau air seni (Heriyanto & Garsetiasih, 2005). Sangat & Larashati (2002) melaporkan bahwa kepel merupakan tanaman obat yang dijadikan bahan baku jamu “awet ayu” dalam industri kosmetik untuk mengharumkan bau keringat dan sebagai diuretik.

Buah kepel dimakan untuk melancarkan air seni, dan membantu mencegah peradangan ginjal. Selain itu, dahulu buah kepel kerapkali dikonsumsi oleh para wanita bangsawan, khususnya putri keraton, untuk mencegah kehamilan.

 

Kandungan Buah Kepel

Penggunaan buah kepel sebagai pewangi memanfaatkan kandungan minyak di dalam buahnya. Minyak tersebut bersifat tidak mudah terurai setelah dicerna di dalam lambung dan usus, sehingga bau wangi tersebut ikut disekresikan bersama keringat dan urine. Di samping itu, tanaman kepel telah terbukti mengandung alkaloid jenis phenanthrene lactams yang bersifat antimutagenik dan antikarsinogenik, namun mekanisme efek ini belum jelas (Shiddiqi et al., 2008). Buah kepel mengandung alkoloid yang dapat digunakan untuk mencegah kehamilan. Senyawa fitoestrogen pada buah kepel mempunyai efek antiimplantasi, sehingga berguna bagi pengaturan jumlah kelahiran. Akan tetapi, penelitian lebih lanjut tentang kandungan dan efek antiimplantasi ini belum banyak dipublikasikan.

 

Studi Pendahuluan yang Sudah Dilakukan

Shiddiqi et al. (2008) melaporkan bahwa tanaman kepel mengandung senyawa acetogenin, styryl lactons, dan isoflavon yang bersifat antikanker. Acetogenin berperan dalam mengganggu permeabilitas mitokondria sel kanker dan pengaturan apoptosis sel kanker. Styryl lactons berperan dalam peningkatan tumor supressor gene, dan isoflavon berperan dalam pengendalian sifat estrogenik sel kanker.

Aktifitas antioksidan tanaman kepel juga telah diteliti oleh Tisnadjaja et al. (2006) menggunakan metode DPPH. Ekstrak n-butanol dari bunga dan ekstrak etil asetat dari buah kepel memiliki aktivitas antioksidan tertinggi atau IC50 terendah, masing-masing 22,44 ppm dan 29,12 ppm. Hasil fraksinasi dari masing-masing komponen pada ekstrak buah kepel menunjukkan aktifitas antioksidan yang semakin menurun, sehingga dapat disimpulkan bahwa aktivitas antioksidan buah kepel merupakan hasil sinergisme dari minimal enam senyawa yang terkandung di dalamnya.

Kontrasepsi merupakan upaya untuk mencegah kehamilan. Estrogen dan progesteron merupakan bahan kontrasepsi yang hingga saat ini banyak digunakan, namun keduanya tidak lepas dari efek samping. Berbagai hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa senyawa senyawa bioaktif yang berpotensi sebagai bahan antifertilitas antara lain senyawa-senyawa golongan steroid, alkaloid, isoflavonoid, triterpenoid, dan xanthon (Adnan, 2009). Kematian intra uterus atau pasca implantasi dapat berlangsung secara alami sekitar 20%. Kematian pasca implantasi dapat terjadi sebagai akibat lingkungan uterus yang kurang menguntungkan. Untuk pemeliharaan implantasi tergantung pada keseimbangan hormon dalam lingkungan uterus dengan rasio progesteron-esterogen yang lebih tinggi. Hormon seks memiliki umpan balik positif dan negatif pada sekresi gonadotropin dari kelenjar pituitary. Pada fase luteal dari siklus menstruasi akan memblok sekresi luteinizing hormone (LH) dan follicle-stimulating hormone (FSH) dari pituitari. Situasi tersebut akan menghambat maturasi folikel ovarium dan mencegah ovulasi. Sampai saat ini, belum ada bukti ilmiah mengenai kandungan fitoestrogen pada buah kepel dan aktifitas anti implantasi yang berpotensi sebagai bahan kontrasepsi.

 

PENUTUP

Pertambahan penduduk Indonesia yang semakin pesat akhir-akhir ini menyebabkan pemerintah untuk berupaya keras mengendalikannya melalui program KB. Upaya pemanfaatan buah kepel sebagai obat kontrasepsi alami diharapkan dapat mendukung kemandirian bangsa dalam penyediaan bahan kontraseptif, sehingga dapat mengurangi ketergantungan impor alat kontrasepsi, sekaligus menghemat devisa. Oleh karena itu diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai potensi buah kepel sebagai bahan kontrasepsi dalam rangka pemanfaatan sumber daya lokal, sehingga memiliki keunggulan ekonomis dan harga yang bersaing. Di samping itu, kajian potensi obat herbal dari buah kepel sebagai bahan kontrasepsi wanita, diharapkan dapat mendorong peningkatan nilai ekonomi tanaman ini dan pada akhirnya akan mendorong masyarakat untuk membudidayakannya, mengingat tanaman kepel sudah semakin langka dan dikategorikan sebagai endangered species.

oleh Suparmi/BioS cetak vol.6 No.1 Sep 2012 hal.37-40

About dhanang

Membuat ilmu kehidupan menjadi hidup lebih hidup

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Scroll To Top