Home / Bios Cetak / RUMPUT LAUT, ZAMRUD TAK TERGALI DARI LAUT SEAWEED, UNEXPLORED EMERALD FROM THE SEA
RUMPUT LAUT, ZAMRUD TAK TERGALI DARI LAUT SEAWEED, UNEXPLORED EMERALD FROM THE SEA

RUMPUT LAUT, ZAMRUD TAK TERGALI DARI LAUT SEAWEED, UNEXPLORED EMERALD FROM THE SEA

 

Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan jumlah pulau 17.508 dan memiliki panjang garis pantai sekitar 81.000 km, sehingga menjadikannya negara dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia setelah Kanada. Namun demikian, karena sebagian besar wilayah pantai Kanada terdiri dari permukaan es, maka secara potensial Indonesia memiliki sumberdaya pesisir dan lautan terbesar di dunia. Selain itu, hampir 75% dari total wilayah Indonesia terdiri dari perairan pesisir dan lautan, sehingga potensi sumberdaya ekosistem lahan basah yang dimiliki Indonesia bisa dikatakan yang terbesar di dunia.

Berdasarkan United Nation Convention on the Law of the Sea (UNCLOS) 1982 perairan Indonesia adalah seluas 5.8 juta km2 dan didalamnya terdapat 27.2% dari seluruh spesies flora dan fauna di dunia. Diperkirakan 12% mamalia, 23.8% amphibi, 31.8% reptilia, 44.7% ikan, 40% moluska, 8.6% rumput laut. Sementara berdasarkan catatan Van Bosse (melalui ekspedisi Laut Siboga pada tahun 1899-1900) di Indonesia terdapat kurang lebih 555 jenis dari 8642 spesies rumput laut yang terdapat di dunia. Dengan kata lain perairan Indonesia sebagai wilayah tropika memiliki sumberdaya plasma nutfah rumput laut sebesar 6.42% dari total biodiversitas rumput laut dunia.

 

BERAGAM FUNGSI DAN MANFAAT RUMPUT LAUT

 

Dalam perairan laut yang luas terdapat beragam ekosistem, salah satu ekosistem yang menarik adalah ekosistem pantai, karena ekosistem ini memiliki produktivitas primer yang tinggi dan keberadaannya mendukung keberadaan ekosistem lainnya. Salah satu organisme penting yang menjaga kestabilan ekosistem ini adalah rumput laut karena memiliki berbagai fungsi antara lain fungsi ekologis, biologis maupun ekonomis. Apabila ditinjau dari sisi ekologis, rumput laut memiliki beberapa fungsi antara lain: (1) Sebagai sumber energi bagi lingkungan perairan di sekitarnya. Kemampuan rumput laut melakukan fotosintesis telah menjadikannya sumber energi bagi berbagai jenis biota yang mengkonsumsinya, seperti ikan, udang, bulu babi yang kemudian menjadikan rantai makanan komplek, sehingga terjadi pengalihan energi dari tingkat tropik yang lebih rendah ke tingkat tropik yang lebih tinggi, (2) sebagai pensuplai bahan organik bagi sekitarnya lingkungan perairan.

Di dalam ekosistem pantai, terjadi mekanisme hubungan dimana rumput laut memberikan sumbangan berupa bahan organik bagi perairan. Rumput laut yang mati diuraikan menjadi partikel-partikel detritus, dimana partikel-partikel detritus ini menjadi sumber makanan bagi berbagai macam hewan laut, (3) sebagai indikator pencemaran. Apabila terjadi pencemaran di perairan laut, maka pertumbuhan rumput laut akan menurun demikian juga dengan jumlahnya. Namun, apabila kondisi perairan mulai membaik, maka pertumbuhan dan jumlahnya akan meningkat kembali, sehingga rumput laut dapat digunakan sebagai indikator dalam pencemaran pantai.

 

Selain memiliki fungsi ekologis, rumput laut juga memegang peranan penting secara biologis. Menurut Dere, fungsi tersebut adalah untuk reproduksi dan sebagai lingkungan pendukung bagi biota lain. Di wilayah perairan pantai, rumput laut menjadi tempat hidup sekaligus perlindungan bagi biota yang memasuki masa tahapan stadio juvenil. Rumput laut dengan unsur haranya dapat mencukupi kebutuhan nutrisi bagi biota pada stadio juvenil. Di samping itu, rumput laut juga melindungi biota dari hewan predator dengan daun-daunnya yang rimbun.

 

Rumput laut ternyata memiliki banyak peranan penting bagi manusia. Menurut Ilalqisny dan Widyartini, sejak tahun 2700 SM, rumput laut telah dimanfaatkan sebagai bahan pangan manusia. Selanjutnya Perancis, Normandia dan Inggris pada abad 17 juga mulai memanfaatkan rumput laut terutama untuk pembuatan gelas. Namun, secara ekonomis baru dimanfaatkan di Cina dan Jepang mulai tahun 1670 sebagai bahan obat-obatan, makanan tambahan, kosmetika, pakan ternak dan pupuk organik.

 

Pada tahun 1990-an berkembang pemakaian pikokoloid (hasil ekstraksi rumput laut) dalam industri makanan, obat-obatan dan industri-industri lainnya. Zat pikokoloid ini termasuk polisakarida. Penggunaan pikokoloid banyak dan luas, sehingga pasarannya juga semakin luas. Penggunaan pikokoloid banyak dijumpai di berbagai sektor baik pangan maupun non pangan. Dengan kemampuannya membentuk gel, menyebabkan pikokoloid secara luas dipergunakan sebagai bahan pengental dan stabilisator atau penstabil makanan.

 

Peranan pikokoloid sebagai pengemulsi (emulsifyer) terutama terletak pada sifat daya pengentalannya. Zat pikokoloid dapat dimanfaatkan sebagai komoditi penting dalam industri susu, roti, kue, es krim, permen, bumbu salad, selai, bir, pengalengan ikan, juga untuk industri farmasi seperti suspensi, salep dan tablet. Pikokoloid  dapat juga digunakan sebagai penstabil susu kocok dan dalam es krim untuk mencegah terbentuknya kristal es. Selain untuk bahan tambahan pada produk makanan, pikokoloid juga dapat digunakan dalam industri farmasi dan kosmetika. Pada beberapa cairan obat, pikokoloid digunakan untuk meningkatkan viskositas dan menjaga suspensi padatan. Sedangkan untuk kosmetika, pikokoloid dapat digunakan sebagai bahan penstabil pasta. Penggunaan ekstrak polisakarida (pikokoloid) rumput laut demikian luas sehingga dapat disimpulkan dalam waktu 24 jam meskipun hanya dalam jumlah kecil, kemungkinan besar kita telah mengkonsumsi makanan yang mengandung  pikokoloid rumput laut.

 

Sebenarnya bukan hanya zat pikokoloid saja yang dapat dikembangkan dari rumput laut, pigmen rumput laut pun sangat potensial untuk dikembangkan. Bahkan Dahuri menyatakan bahwa salah satu dari 10 sektor yang dapat dikembangkan untuk memajukan dan memakmurkan Indonesia adalah bioteknologi kelautan, yang didalamnya termasuk pengembangan pigmen rumput laut.

 

 

 

RUMPUT LAUT DAN PIGMEN

 

Rumput laut telah lama dipercaya bernutrisi karena memiliki nilai protein yang tinggi disamping kandungan mineral, elemen yang dibutuhkan manusia dan vitamin. Rumput laut juga mengandung asam nukleat yaitu RNA dan DNA lebih banyak dibandingkan sumber makanan lain, meskipun tidak sebanyak SCP (Single Cell Protein atau Protein Sel Tunggal) dari bakteri dan jamur. Total fraksi lemak rumput laut juga bervariasi dari 1-70% berat kering rumput laut, tergantung dari lingkungan tempat rumput laut tersebut tumbuh.

 

Rumput laut juga mengandung beragam pigmen, tergantung dari kelasnya. Tiga kelas rumput laut dan pigmen yang terkandung didalamnya antara lain: (1)  Rhodophyceae (alga merah),  Menurut Aslan, kelas ini merupakan yang paling populer dan komersial. Alga merah memiliki berbagai bentuk dan variasi warna, ini dikarenakan alga merah (gambar 1a) memiliki pigmen yang beragam. Menurut Luning, pigmen tersebut diantaranya: klorofil a, klorofil dan pikobiliprotein (pikoeritrobilin, pikosianobilin). Alga merah mempunyai sifat adaptasi kromatik. Dalam dinding sel terdapat selulosa dan produk fotosintetik berupa karaginan, agar, fulcellaran dan porpiran. (2) Chlorophyceae (alga hijau), Kelas ini melimpah di perairan tropik dan sesuai dengan namanya alga ini berwarna hijau. Berbeda dengan alga lainnya, di dalam alga hijau (gambar 1b) tidak terdapat pikokoloid, namun beberapa spesies dapat dimakan sebagai sayuran. Produk fotosintetiknya berupa kanji dan lemak. Warna hijau yang khas dikarenakan adanya kandungan pigmen di dalam alga ini. Luning menyebutkan  pigmen tersebut antara lain: klorofil a, klorofil b dan karotenoid (siponaxantin, siponein, lutein, violaxantin, dan zeaxantin). (3) Phaeophyceae (alga coklat). Winarno menyatakan bahwa alga coklat (gambar 1c) merupakan kelas alga yang potensial untuk dikembangkan karena mengandung pikokoloid yaitu alginat, namun kelas ini termasuk yang belum banyak dimanfaatkan manusia. Pigmennya  terdiri atas klorofil a, klorofil c (c1 danc2) dan karotenoid (fukoxantin, violaxantin, zeaxantin).

contoh rl

Fungsi dari pigmen tersebut antara lain: dalam tubuh manusia, klorofil berfungsi sebagai pembersih alamiah karena dapat mendorong terjadinya detoksifikasi. Klorofil juga bermanfaat untuk menghilangkan masuk angin berat dalam lambung atau usus besar. Kemampuan klorofil dalam mensintesis oksigen dan karbohidrat menjadikannya sebagai sumber energi yang sangat dibutuhkan tubuh. Selain itu, klorofil dapat merangsang produksi sel-sel darah putih sehingga dapat memperkuat sistem kekebalan tubuh dalam melawan serangan mikroorganisme penyebab penyakit. Stuktur kimia klorofil yang menyerupai struktur hemin pada hemoglobin menyebabkan klorofil dapat merangsang pembentukan sel darah merah pada tubuh sehingga berkhasiat sebagai anti anemia. Dalam bidang pengobatan senyawa antioksidan ini bermanfaat untuk mengatasi penyakit kanker, jantung, asma dan diabetes, bahkan klorofil juga efektif untuk meredakan kondisi-kondisi peradangan seperti jerawat, radang tenggorokan, radang gusi dan iritasi lambung.

Karotenoid sangat diperlukan oleh manusia karena selain sangat potensial dalam mencegah kanker, menambah daya tahan tubuh, anti virus, jamur dan parasit, karotenoid juga baik untuk penglihatan, pertumbuhan dan reproduksi. Jenis karotenoid yang penting bagi manusia antara lain α dan β-karoten. β-karoten merupakan provitamin A yang dapat dikonversikan menjadi vitamin A oleh tubuh. Vitamin A merupakan zat gizi penting yang membantu pertumbuhan dan pembentukan jaringan tubuh, pembentukan tulang dan gigi, daya tahan tubuh dan membentuk jaringan mata.  α  karoten disebut juga karotenoid pro-vitamin A yang bisa mencegah masuknya oksigen yang membahayakan (radikal bebas), mengurangi resiko kerusakan hati, paru-paru dan kulit. Salah satu contoh karotenoid dari rumput laut adalah fucoxantin (gambar 2). Disamping berperan penting dalam proses fotosintesis pada alga coklat, ternyata fucoxantin juga memiliki fungsi yang luas,  khususnya bagi manusia, fungsi tersebut antara lain: (1) Anti obesitas (anti  kegemukan atau pelangsing). Penelitian yang dipimpin Kazuo Miyashita, seorang Profesor Kimia Universitas Hokkaido Jepang, menemukan bahwa konsumsi fucoxantin terbukti mampu menurunkan berat badan, sekitar 5-10%. (2) Antidiabetes dan mengurangi resiko jantung koroner. Dengan keberadaannya dalam tubuh manusia, fucoxantin akan mendorong sintesis DHA (asam lemak omega 3) pada hati. Peningkatan DHA akan mengurangi “lemak jahat” (LDL) yang terkenal sebagai penyebab penyakit jantung, sehingga fucoxantin dapat mengurangi resiko jantung koroner. (4) Antioksidan. Banyak bukti mengindikasikan bahwa ekstrak alga mampu menunjukkan fungsi yang penting, seperti anti mutagenesis, anti tumor dan antioksidan. Radikal bebas muncul terutama sekali dalam bermacam kondisi penyakit. Dalam konteks ini, antioksidan alami dari alga dipercaya mencegah radikal bebas  sebagai media transfer penyakit. Dalam beberapa laporan, aktivitas antioksidan ekstrak alga berhubungan dengan fraksi karotenoid dalam alga (sebagai contoh fucoxantin). (5). Anti kanker, makrobiotik. American Institute for Cancer research and world Cancer Research Fund melaporkan bahwa konsumsi rumput laut secara rutin dapat menurunkan resiko kanker payudara dan kanker indung telur pada wanita. Hubungan ini bisa diketahui melalui aktivitas antitumor dari fukoxantin (karotenoid yang memberi warna coklat pada alga coklat) dan fukoidan (polisakarida sulfat yang ditemukan khusus dalam alga coklat). Wanita yang menkonsumsi fukoxantin akan memiliki tingkat sirkulasi  estrogen yang lebih rendah, sehingga menurunkan resiko kanker payudara. Begitu luasnya manfaat rumput laut, sehingga sangat baik bila kita mengkonsumsi rumput laut setiap harinya.

Gambar 2. Fukoxantin (Mori, dkk., 2003)

Gambar 2. Fukoxantin (Mori, dkk., 2003)

PROSPEK RUMPUT LAUT DI BERBAGAI NEGARA

 

Di beberapa negara timur jauh dan kepulauan pasifik, rumput laut digunakan sebagai sumber makanan, sejumlah besar penduduk daerah maritim secara langsung ataupun tidak langsung mengkonsumsi atau berhubungan dengan berbagai bentuk produk alga laut, dimana rumput laut ini berguna sebagai makanan manusia ataupun hewan, juga sebagai obat-obatan, agar kultur, dan sebagai sumber bahan baku berbagai industri.

 

Dilaporkan bahwa pada tahun 2005, rumput laut senilai 2 milyar US$ dikonsumsi masyarakat Cina, Jepang dan Korea. Setiap hari sekitar 168 spesies alga telah dikomersilkan, di Jepang, Cina, Taiwan dan Korea, diantaranya porphyra (nori), laminaria (kombu), undaria (wakame). Di Jepang, alga merah Porphyra adalah yang paling populer atau lebih dikenal dengan nama nori. Jepang merupakan negara yang paling banyak mengkonsumsi rumput laut di dunia, walaupun hanya memiliki garis pantai sepanjang 29.751 km. Disetiap sisi kehidupan masyarakat Jepang setiap harinya, tidak terlepas dari rumput laut. Bahkan, masyarakat Jepang telah memasukkan rumput laut dalam budaya dan tradisi mereka sejak berabad-abad yang lalu. Contoh makanan yang terbuat dari rumput laut terkenal di Jepang adalah Kombu. Kombu terbuat dari rumput laut jenis Laminaria sp yang termasuk golongan kelp. Salah satu contoh kelp di Indonesia adalah Sargassum sp. Di berbagai belahan dunia, Sargassum sp merupakan jenis rumput laut di perairan tropik yang terkenal sebagai alginofit (penghasil alginat). Filipina, India dan Vietnam merupakan negara-negara yang mulai memanfaatkan rumput laut jenis ini [Tabel 1]. Ironisnya, di Indonesia, jenis ini hanya dibiarkan sebagai sampah lautan, mengapung, hanyut terbawa arus, ataupun terdampar di pinggir pantai.

tabel

 

 

POTENSI RUMPUT LAUT DI INDONESIA

Dinas Kelautan dan Perikanan dalam Seruan Bersama Kelautan menyatakan bahwa salah satu penyebab keprihatinan dalam pembangunan sektor kelautan adalah belum optimalnya pemanfaatan potensi kelautan (yang salah satunya adalah rumput laut). Realisasi pemanfaatan rumput laut baik yang dipanen liar maupun budidaya masih jauh dari potensi lestari yang ada, dan masih jauh berada dibawah negara-negara tetangga yang kondisi dan potensi rumput lautnya lebih kecil dari Indonesia. Sebagai contoh adalah Filipina, walau hanya memiliki garis pantai sepanjang 36.289 km, terbukti Filipina mampu menjadi negara pengekspor rumput laut terbesar di dunia. Dilaporkan dalam Manila Times, bahwa sebenarnya Filipina memiliki kekhawatiran jika Indonesia menjadi eksportir terbesar di dunia. Hal ini sangat beralasan, karena Indonesia memiliki kekuatan dan potensi untuk bersaing dengan Filipina. Secara de facto, Indonesia memiliki lautan, pantai dan keanekaragaman rumput laut yang lebih besar dari Filipina. Walaupun telah dikarunai lautan dengan potensi keanekaragaman yang tinggi, tenaga kerja melimpah, namun mengapa hingga saat ini bangsa Indonesia belum tergugah untuk menggali rumput laut, padahal rumput laut dengan segenap produk hilirnya bila dimanfaatkan dengan benar mampu menghasilkan 8 miliar dolar AS pertahun atau kurang lebih 2 miliar lebih besar dari keseluruhan ekspor tekstil kita per tahun. Menurut Dahuri, baik dalam program jangka pendek maupun panjang, rumput laut khususnya bidang bioteknologi rumput laut termasuk sektor ekonomi kelautan yang layak dikembangkan untuk memecahkan berbagai persoalan bangsa.

PENUTUP

Begitu luasnya manfaat lautan khususnya rumput laut, namun kita tidak menyadarinya. Sehingga kita jauh tertinggal dari berbagai negara tetangga yang sebenarnya memiliki kondisi dan potensi rumput laut yang lebih kecil dari Indonesia. Masyarakat pesisir, mungkin tidak perlu mengalami keadaan menjadi komunitas terbelakang dan termiskin di Indonesia bila menyadari potensi rumput laut dan mengetahui cara pemanfaatannya. Sesungguhnya apabila dikelola dengan benar, rumput laut dapat memberikan kontribusi riil dalam menjawab berbagai permasalahan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara  berkelanjutan. Nehru menyatakan banyak terjadi negara yang kaya raya ternyata dihuni oleh rakyat yang kelaparan, karena sumber daya yang mengalir sia-sia. Indonesia pun menyia-nyiakan “zamrud laut” ini, yang seharusnya menjadi solusi bagi berbagai masalah bangsa namun tidak dimanfaatkan. Semoga bangsa ini lekas terbangun dari tidur panjangnya.[]

Ratih Pangestuti dan Leenawaty Limantara/BioS Vol.1 No.2 2007

 

POTENSI RUMPUT LAUT DI INDONESIA

 
Dinas Kelautan dan Perikanan dalam Seruan Bersama Kelautan menyatakan bahwa salah satu penyebab keprihatinan dalam pembangunan sektor kelautan adalah belum optimalnya pemanfaatan potensi kelautan (yang salah satunya adalah rumput laut). Realisasi pemanfaatan rumput laut baik yang dipanen liar maupun budidaya masih jauh dari potensi lestari yang ada, dan masih jauh berada dibawah negara-negara tetangga yang kondisi dan potensi rumput lautnya lebih kecil dari Indonesia. Sebagai contoh adalah Filipina, walau hanya memiliki garis pantai sepanjang 36.289 km, terbukti Filipina mampu menjadi negara pengekspor rumput laut terbesar di dunia. Dilaporkan dalam Manila Times, bahwa sebenarnya Filipina memiliki kekhawatiran jika Indonesia menjadi eksportir terbesar di dunia. Hal ini sangat beralasan, karena Indonesia memiliki kekuatan dan potensi untuk bersaing dengan Filipina. Secara de facto, Indonesia memiliki lautan, pantai dan keanekaragaman rumput laut yang lebih besar dari Filipina. Walaupun telah dikarunai lautan dengan potensi keanekaragaman yang tinggi, tenaga kerja melimpah, namun mengapa hingga saat ini bangsa Indonesia belum tergugah untuk menggali rumput laut, padahal rumput laut dengan segenap produk hilirnya bila dimanfaatkan dengan benar mampu menghasilkan 8 miliar dolar AS pertahun atau kurang lebih 2 miliar lebih besar dari keseluruhan ekspor tekstil kita per tahun. Menurut Dahuri, baik dalam program jangka pendek maupun panjang, rumput laut khususnya bidang bioteknologi rumput laut termasuk sektor ekonomi kelautan yang layak dikembangkan untuk memecahkan berbagai persoalan bangsa. 

 

PENUTUP

 

Begitu luasnya manfaat lautan khususnya rumput laut, namun kita tidak menyadarinya. Sehingga kita jauh tertinggal dari berbagai negara tetangga yang sebenarnya memiliki kondisi dan potensi rumput laut yang lebih kecil dari Indonesia. Masyarakat pesisir, mungkin tidak perlu mengalami keadaan menjadi komunitas terbelakang dan termiskin di Indonesia bila menyadari potensi rumput laut dan mengetahui cara pemanfaatannya. Sesungguhnya apabila dikelola dengan benar, rumput laut dapat memberikan kontribusi riil dalam menjawab berbagai permasalahan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara  berkelanjutan. Nehru menyatakan banyak terjadi negara yang kaya raya ternyata dihuni oleh rakyat yang kelaparan, karena sumber daya yang mengalir sia-sia. Indonesia pun menyia-nyiakan “zamrud laut” ini, yang seharusnya menjadi solusi bagi berbagai masalah bangsa namun tidak dimanfaatkan. Semoga bangsa ini lekas terbangun dari tidur panjangnya.

About dhanang

Membuat ilmu kehidupan menjadi hidup lebih hidup

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Scroll To Top