Home / biologi / Evolusi Mahluk Penyaru
Evolusi Mahluk Penyaru
Bunglon

Evolusi Mahluk Penyaru

 

Modifikasi adalah variasi yang terjadi karena faktor lingkungan dan bukan karena faktor genetis. Atau dengan kata lain perubahan faktor fenotipe pada makhluk yang disebab karena kegiatannya sendiri atau oleh lingkungan tempat hidupnya. Organisme yang telah termodifikasi akan cocok dengan lingkungan lokal lebih muda untuk sintas dan bereproduksi dibanding individu yang kurang cocok. Modifikasi berkaitan erat dengan adaptasi. Modifikasi merupakan salah satu jalan bagi tubuh tumbuhan dan hewan (organisme) dalam beradaptasi.  Artinya adaptasi dapat dilakukan oleh tumbuhan dan hewan melalui memodifikasi bagian tubuh. Modifikasi bisa terjadi pada akar, batang, dan daun.  Modifikasi oleh tumbuhan bertujuan untuk mempertahankan hidup tumbuhan.
Tumbuhan
Contoh tumbuhan yang mengalami modifikasi adalah kaktus (Ferocactus pilosus) dan  daun cocor bebek (Kalanchoe pinata Pers). Pada umumnya daun tumbuhan dikotil maupun monokotil memiliki bentuk dan ukuran yang sangat beragam. Pada beberapa tumbuhan, keragaman tersebut semakin bertambah dengan adanya perkembangan ke arah tertentu yang menyebabkan daun tampak berubah baik bentuk maupun ukurannya. Daun-daun yang demikian itu telah dikatkan telah mengalami modifikasi. Modifikasi pada daun terjadi sebagai akibat adanya reduksi dan penambahan jaringan tertentu selama perkembangannya. Modifikasi tersebut dapat terjadi pada daun secara keseluruhan.
Daun dapat mengalami modifikasi membentuk piala, menggumbung, atau perangkap serangga lainnya yang berfungsi dalam absorbsi dan nutrisi tambahan. Selanjutnya ada juga alat tambahan berupa trikoma, / emergensia yang merupakan epidermis dari jaringan di bawahnya. Duri trikoma tersebar tidak teratur dan mudah dilepas. Selain itu ada juga modifikasi daun yang lainnya yaitu tunas adventif yang merupakan tunas yang muncul bukan dari ujung batang atau pada ketiak daun, melainkan dari bagian tubuh tumbuhan lainnya, misalnya pada daun cocor bebek. Macam-macam modifikasi daun. Modifikasi dapat terjadi karena sebagai bentuk penyesuaian makhluk hidup terhadap lingkungan untuk bertahan hidup.
Hewan
Contoh hewan yang mengalami modifikasi adalah burung kolibri madu (Mellisuga helenae) dan bunglon (Calotus jubatus). Bentuk modifikasi untuk burung misalnya pada paruh burung yang jika digolongkan dalam adaptasi maka disebut sebagai adaptasi morfologi. Modifikasi pada hewan adalah sebagai bentuk adaptasi dari hewan tersebut terhadap lingkungan dimana hewan itu berada (pengaruh lingkunga). Bentuk modifikasi pada hewan tergolong dalam istilah yang disebut adaptasi. Perkembangan paruh burung telah membawa evolusi pada sistem pencernaan. Bentuk paruh burung kolibri yang panjang, kecil, dan runcing merupakan suatu adaptasi yang telah termodifikasi untuk menyesuaikan dengan makanannya. Untuk bentuk paruh seperti ini, jenis makanan yang dikonsumsi adalah madu atau nektar yang di hasilkan oleh bunga atau sejenis tumbuhan lainnya.
Paruh terdiri dari rahang atas yang disebut maksila dan rahang bawah yang disebut mandibula. Rahang terdiri dari tulang, kekhasannya cekung atau berongga untuk menjaga berat saat terbang. Permukaan luar paruh diliputi oleh selubung tanduk tipis dari keratin yang disebut ramfoteka. Di antara lapisan luar yang keras dan tulang terdapat lapisan vaskuler yang memuat pembuluh darah dan akhiran saraf. Keadaan lingungan akan membuat organisme akan berusaha selalu berubah untuk bertahan hidup. Disinilah konsep seleksi alam berkembang. walaupun perubahan yang dihasilkan oleh seleksi alam kecil, perubahan ini akan terakumulasi dan menyebabkan perubahan yang substansial pada organisme. Proses ini mencapai puncaknya dengan menghasilkan spesies yang baru.
Bunglon merupakan salah satu jenis reptil yang mampu mengubah warna tubuhnya sesuai kondisi lingkungan atau sesuai dengan keadaan sekitar yang menguntungkan atau merugikan bunglon.  Kemampuan berubah warna atau kamuflase alami pada bunglon membuat hewan ini mampu menghadapi dan menyesuaikan diri terhadap beberapa kondisi. Namun sebenarnya, fungsi utama dari perubahan warna ini adalah, untuk memperingatkan tetangga-tetangganya akan keberadaan bahaya yang mengintai. Sebagian besar bunglon dan beberapa spesies anole dan kadal gecko mampu mengubah warna kulit mereka pada titik tertentu. Diperkirakan terdapat lebih dari 160 spesies bunglon di dunia.
Namun, tak semua bunglon tersebut mampu mengubah coraknya menjadi brilian. Banyak spesies bunglon, seperti Namaqua dan Brygoo hanya bisa berubah dari coklat atau abu-abu menjadi hijau dan kembali lagi. Bunglon mengubah coraknya dalam jangkauan warna yang dimiliki pada spesiesnya yang telah berevolusi. Perubahan ini meliputi semua warna, mulai dari warna biru air laut hingga pink pucat. Bahkan, terkadang terdapat beberapa bunglon yang bisa berubah warna menjadi berpola garis-garis dan titik-titik. Perubahan warna pada beberapa spesies bunglon lain terbatas hanya pada warna-warna tertentu, seperti merah, kuning dan hijau.
Kadal yang mampu berubah warna memiliki kulit terluar yang berwarna transparan dan beberapa lapis kulit di bawahnya. Lapisan-lapisan ini berisi sel yang terkait erat satu sama lain yang disebut chromatophores. Lapisan ini memantulkan cahaya dan dipenuhi melamin pigmen alami. Ketika kadal mengalami perubahan pada suhu tubuh, suasana hati atau tingkat tekanan, sinyal neurotransmitter tertentu pada sel chromatophores berkontraksi dan meregang. Kecepatan kadal mengubah warnanya juga beragam. Namun, perubahan warna ini berada “Di bawah kondisi yang tepat dan berlangsung selama beberapa detik,” ungkap kepala fakultas biologi University of Texas (Campbell) dan peneliti herpetologi atau studi amfibi dan reptil. “Terkadang, saat perubahan suhu di lingkungan terjadi dengan sangat lambat, perubahan warna pada bunglon juga akan makin lambat”. Misalnya, ketika matahari terbit setelah malam yang dingin, chromatophores normal bunglon yang berwarna coklat muda akan meregang.
Peregangan ini akan membuat kulit bunglon memiliki warna yang lebih coklat tua yang lebih padat yang mampu menyerap cahaya dan menghangatkan tubuh kadal tersebut. Jika kadal merasa kepanasan setelah ‘berjemur’ di matahari siang, chromatophores gelap hewan ini akan berkontraksi. Hasilnya pigmen coklat kulit bunglon akan memudar dan membuat bunglon memiliki warna yang lebih cerah untuk memantulkan sinar matahari yang mengenai kulitnya. Perubahan warna ini juga tak semata untuk menyesuaikan pada lingkungan.
Perubahan warna ini juga memiliki fungsi untuk menjadi salah satu cara berkomunikasi dengan hewan ini. Bunglon jantan di beberapa spesies akan mengubah warnanya ketika sedang bersiap-siap untuk berkelahi, ungkap Campbell. Misalnya, ketika bunglon harimau kumbang yang biasanya memiliki warna biru atau hijau dengan garis horisontal berwarna putih menjadi marah atau merasa terancam, chromatophores merah hewan ini akan meregang sepenuhnya. Hal ini akan menghalangi warna hijau dan biru pada lapisan kulit dibawahnya. Warna merah menyala pada bunglon berfungsi sebagai peringatan bagi bunglon lain agar menjauh darinya.
Bunglon juga menggunakan warna untuk menyiarkan ‘ketersediaan’ seksualnya. Bunglon harimau kumbang jantan akan mencari pasangannya dengan memamerkan warna-warni perpaduan biru, hijau, oranye, kuning, merah dan putih untuk memikat bunglon betina. Bunglon harimau kumbang betina yang umumnya berwarna coklat muda dengan aksen pink atau koral berubah menjadi coklat gelap atau hitam bergaris oranye ketika sedang hamil. Perubahan warna ini guna mengirimkan sinyal pada pejantan bahwa betina ini sedang tak tertarik untuk kawin. [] Sonya  Titin Nge/mb2013

 

About dhanang

Membuat ilmu kehidupan menjadi hidup lebih hidup

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Scroll To Top