Home / biokimia / Obat Nyamuk Dari Pigmen
Obat Nyamuk Dari Pigmen

Obat Nyamuk Dari Pigmen

nyamuk1

Setiap tahunnya Pemerintah Indonesia khususnya Departemen Kesehatan, disibukkan oleh munculnya kasus-kasus demam berdarah. Sektor kesehatan dari tingkat pusat, provinsi, dan kabupaten/ kota bahkan sampai ke pos pelayanan terdepan, dan para pejabat publik selalu kewalahan mengatasi masalah kejadian luar biasa (KLB) demam berdarah yang sampai saat ini belum dapat dikendalikan dengan baik.

Angka penderita dan kematian masih terus bertambah, terlebih lagi di wilayah Jakarta pasca banjir 2007. Tercatat lima puluh dua ribu kasus demam berdarah terjadi hingga kuartal pertama tahun 2007 dengan angka kematian penderita di Jakarta sebanyak empat puluh satu orang.

Demam berdarah dengue (DBD) atau Dengue Haemorrhagic Fever (DHF), adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue. Infeksi virus ini disebarkan oleh vektornya yaitu nyamuk Aedes aegypti, yang banyak hidup pada daerah tropis dan sub-tropis. DBD pertama-kali dikenali di Filipina tahun 1953. Beberapa tipe virus dengue kemudian dapat diisolasi dari pasien selama epidemik di Bangkok, Thailand, tahun 1958, sedangkan di Indonesia kasus DBD pertama kali dilaporkan muncul di Surabaya tahun 1968.

Ribut-ribut demam berdarah menjadi lahan subur bagi para produsen obat nyamuk. Semakin gencar iklan dan promosi produk obat nyamuk yang “bisa mengusir nyamuk demam berdarah”. Pada dasarnya “obat nyamuk” merupakan upaya pengendalian nyamuk dewasa, tidak sampai membunuh larva. Upaya pemerintah menanggulangi DBD dengan pengasapan (fogging) pada kenyataannya tidaklah efektif. Pengasapan hanya sanggup membunuh nyamuk dewasa, tetapi tidak mampu membunuh larva. Tidak tepatnya dosis yang diberikan pada campuran aeorosol jentik-jentik yang digunakan dalam pengasapan juga mengakibatkan cara pengasapan meleset jauh dari target yang diharapkan.

Upaya pemerintah untuk mencegah perkembangan larva nyamuk dilakukan dengan kampanye program 3M yaitu Menguras, Menutup, dan Mengubur tempat-tempat penampungan air yang dapat menjadi sarang berkembang biaknya nyamuk. Selain itu juga dikenal adanya program abatesisasi massal, yaitu penggunaan abate (temephos)  sebagai bahan pembunuh nyamuk dalam tempat penampungan-penampungan air. Namun hingga kini demam berdarah masih menjadi “langganan tetap” rumah sakit dan dinas kesehatan.

Telah lama disadari bahwa pemberantasan nyamuk dengan insektisida kimiawi memberi dampak negatif pada lingkungan. Uji Bioefikasi yang dilakukan Widiarti dkk (1997) mencantumkan bahan kimia aktif yang terkandung dalam delapan merk seperti Propoksur, Transfluthrin, D-allethrin, Diklorvos, Esbiothrin, DDVP, Bioallethrin, Prolethrin, dan D-fenothrin. Insektisida kimiawi tidak hanya memutus rantai pertumbuhan organisme target  tetapi juga mempunyai efek samping terhadap organisme non-target, termasuk efek pencemaran lingkungan dan gangguan kesehatan bagi manusia. Haley (1955) melaporkan beberapa efek farmakologi yang berbahaya akibat interaksi manusia dengan bahan kimia yang terkandung dalam insektisida. Tepatlah ungkapan lama: “Menyelesaikan suatu masalah dengan menimbulkan masalah”.

Potensi tumbuhan sebagai sumber insektisida alam telah banyak berkembang dalam beberapa dekade terakhir. Beberapa senyawa yang berpotensi sebagai insektisida alam kebanyakan berasal dari golongan terpenoid dan alkaloid. Namun demikian kandungan senyawa toksik tersebut dalam tumbuhan umumnya sangat sedikit jumlahnya sehingga sulit untuk diisolasi.

Sementara itu ada beberapa senyawa yang bersifat toksik ketika diekspos dengan cahaya. Fenomena tersebut dikenal dengan istilah efek fototoksik. Eksplorasi terhadap senyawa kimia yang bersifat fototoksik terhadap insekta pertama kali dilakukan oleh Barbieri pada tahun 1928  dengan menguji turunan-turunan senyawa xantin pada larva nyamuk Anopheles dan Aedes.

Senyawa-senyawa tetrapirol yang menyusun struktur pigmen memiliki potensi sebagai senyawa fototoksik. Sifat fotokimia suatu senyawa pigmen disebabkan adanya kromofor (gugus yang berperan menyerap energi cahaya), sehingga dapat berperan sebagai suatu sensitizer (molekul peka cahaya) dan menjadi inisiator dalam reaksi-reaksi kimia dan biologi di alam. Golongan pigmen tetrapirol yang berpotensi fototoksik antara lain porfirin dan turunannya. Selain sebagai foto-insektisida, sifat fotokimia senyawa-senyawa ini juga dimanfaatkan dalam terapi fotodinamika pada penyakit tumor/kanker.

nyamuk2

Porfirin (Gambar 1A) merupakan tetrapirol yang paling sederhana. Modifikasi pada periferalnya menghasilkan senyawa antara lain Hematoporfirin-dimetil-eter (Gambar 1C). Struktur porfirin yang tereduksi pada cincin pirol ke empat akan membentuk klorin. Contoh senyawa dengan struktur dasar klorin adalah Klorofil a, yaitu pigmen warna hijau pada daun (Gambar 1B). Molekul-molekul ini menyerap energi cahaya pada daerah UV-tampak dan dekat-infra merah.

 

Mekanisme Fototoksin

Suatu sensitizer adalah senyawa netral. Dalam strata energi, molekul sensitizer netral berada pada tingkat terbawah/dasar (S0). Ketika sensitizer ini menyerap energi cahaya, maka molekul akan naik ke tingkatan energi yang lebih tinggi/tereksitasi yaitu kondisi singlet (1S*). Sensitizer tereksitasi merupakan molekul yang labil, memiliki waktu hidup yang singkat. Singlet sensitizer dapat kembali ke keadaan dasar dengan fluorensensi atau melakukan intersystem crossing (ISC) sehingga terbentuk triplet tereksitasi (3S*). Interaksi antara triplet sensitizer dengan oksigen (3O2) di lingkungan menghasilkan oksigen reaktif yang sitotoksik (merusak sel).

Interaksi antara triplet sensitizer dengan oksigen di lingkungannya dapat terjadi dengan dua cara. Reaksi tipe pertama mengikut-sertakan transfer elektron atau atom hydrogen sehingga terbentuk oksigen radikal (O·) yang merusak sel. Reaksi tipe dua adalah pembentukan singlet oksigen (1O2) ketika sensitizer berelaksasi ke tingkat dasar berinteraksi dengan oksigen. Kedua tipe reaksi dapat dipahami dengan diagram Jablonski (Gambar 2).

nyamuk3

Uji Toksisitas

Uji toksisitas hematoporfirin IX terhadap lalat jenis Ceratitis capitata dan Bactrocera oleae  dilaporkan oleh Ben Amor et al. (1998). Hematoporfirin IX adalah suatu turunan molekul porfirin yang terbentuk saat proses biosintesis klorofil. Senyawa porfirin lainnya, yaitu Hematoporfirin-dimetil-eter (HPdE) diketahui memiliki efek toksis terhadap L. bryoneae. Ada yang menggunakan beberapa variasi densitas optik (ekuivalen dengan konsentrasi) Klorofilin (suatu turunan klorofil) dalam larutan air diuji-cobakan pada larva nyamuk Anopheles. aconitus dan Aedes. aegypti instar III dan IV dengan radiasi lampu tungsten berdaya 5w. Hasil percobaan menunjukkan semakin besar nilai densitas optik larutan Klorofilin, semakin tinggi tingkat kematian larva.

Beberapa uji coba tersebut masih dilakukan dalam skala laboratorium, belum pada taraf aplikasi di lapangan. Walaupun demikian, ide penggunaan pigmen sebagai insektisida alam dengan memanfaatkan energi cahaya bukan tidak mungkin suatu saat nanti dapat diterapkan di lingkungan bebas.

Potensi pigmen sebagai insektisida memiliki beberapa keuntungan antara lain bahwa dalam kondisi normal, senyawa-senyawa tersebut tidak bersifat toksik pada lingkungan. Selain itu, setelah bereaksi dengan oksigen, molekul ini akan kembali ke tingkat energi asalnya untuk menjadi molekul netral. Secara alamiah, pigmen yang terekspos cahaya akan mengalami proses degradasi warna (photobleaching) sehingga tidak meninggalkan residu warna di lingkungan bebas.

Dalam pengembangan penelitian tentang insektisida alam berbasis pigmen yang juga perlu diperhatikan adalah efektifitas cahaya matahari di alam bebas. Disadari bahwa suatu penelitian laboratorium dilakukan dalam kondisi yang terkontrol, sedangkan yang terjadi di alam, cahaya polikromatik sangat sulit untuk dikontrol. Oleh karena itu, yang perlu dilakukan pada awalnya adalah merancang suatu percobaan laboratorium dengan menggunakan sumber energi cahaya polikromatik yang meniru cahaya matahari, sehingga di masa depan inseksida pigmen ini dapat diterapkan di lingkungan bebas.

Meskipun demikian masih perlu penelitian yang lebih intensif terhadap insektisida berbasis pigmen ini serta dampaknya terhadap ekologi secara keseluruhan. Di sisi lain, untuk mewujudkan Indonesia yang bebas demam berdarah diperlukan kerja keras dan sistem yang berkesinambungan. Termasuk di dalamnya adalah masalah sanitasi lingkungan, pembelajaran dan perubahan pola pikir masyarakat terhadap pentingnya menjaga  kebersihan lingkungan, kesadaran akan bahaya insektisida kimiawi serta upaya penanggulangan DBD. Jangan sampai Indonesia kehilangan generasi-generasi penerus bangsa karena “kalah” dengan virus DBD[]

Novita Indah Susanti dan M. Martosupono/BioS.Vol.1, No. 1,  2007

 

 

 

About dhanang

Membuat ilmu kehidupan menjadi hidup lebih hidup

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Scroll To Top