Home / Ekologi / Limpahan Bulu Babi Sampah atau Berkah

Limpahan Bulu Babi Sampah atau Berkah

bbbb

Bulu babi termasuk hewan invertebrata tergolong Filum Echinodermata. Hewan ini memiliki duri, sehingga disebut duri babi atau landak laut. Ada yang mengira bulu babi adalah bagian dari tubuh babi, tidak mengetahui bahwa di laut hidup hewan berduri yang disebut bulu babi.
Hewan ini hidup di wilayah pasang surut seperti di terumbu karang dan padang lamun, bahkan ada yang hidup sampai kedalaman 5000 m seperti Echinometrix calamaris. Bulu babi, banyak orang menyebutnya dengan nama landak laut karena berduri seperti landak. Hewan ini hidup di terumbu karang dan padang lamun, untuk mencari makan, berlindung, dan memijah.

Bentuk tubuhnya membundar, dan hampir semua permukaan tubuh dipenuhi dengan duri, yang berfungsi sebagai alat gerak, mencari makan, dan mempertahankan diri dari predator. Duri bulu babi bervariasi baik ukuran maupun warna. Selain itu durinya ada yang beracun dan ada tidak beracun. Jenis yang beracun seperti Diadema setosum. Kebaradaan bulu babi yang melimpah di pesir pantai sering menimbulkan kesan kotor , sehingga muncul anggapan bahwa bulu babi hanya sebagai sampah yang tidak bermanfaat. Di perairan Indonesia diperkirahkan sekitar 84 jenis bulu babi, antara lain D. antillarum, D.setosum, Lytechinus variegatus, Mechinus milliaris, Tripneutes gratilla, Echinarachnius sp. Sedangkan di Kepulauan Raja Ampat spesies yang telah ditemukan adalah D. antillarum, D. setosum, Echinometra mathaei, T. gratilla, Stomopneustes variolaris, dan Toxopneustes pileolus, dengan aneka warna, seperti warna hitam, coklat, ungu, merah, pink, kuning dan hijau sedangkan durinya ada yang panjang dan ada yang pendek.

Keberadaan bulu babi di sekitar pesisir pantai, membuat mayarakat pesisir merasa terganggu. Hewan ini dianggap sebagai sampah pantai yang tidak berguna dan tidak bernilai ekonomis, sehingga hanya dibuang begitu saja tanpa dimanfaatkan. Bulu babi yang melimpah , dapat menjadikan pantai kotor, karena hidupnya senang di perairan yang tercemar limbah, sehingga dianggapnya sebagian dari sampah yang tidak bermanfaat bagi manusia.

Bulu babi memiliki duri tajam dan beracun yang dapat membuat orang ketakut- an akan keberadaannya. Upaya untuk mengurangi kelimpahannya dan menghindari durinya, dengan membenamkannya ke dalam pasir atau dikumpulkan lalu dibakar. Jenis yang banyak di pesisir pantai adalah D. setosum, D. antillarum, Echinometra mathaei, dan T. gratilla.

Pemusnahan bulu babi secara terus-menerus, untuk menekan populasinya, dapat berakibat pada kelestariannya. Pemusnahan bulu babi bertujuan untuk mengurangi populasinya karena dianggap beracun dan sampah pantai. Hewan ini tidak semua beracun, ada beberapa jenis dapat dimanfaatkan sebagai bahan konsumsi. Budidaya bulu babi merupakan cara tepat untuk mengurangi kepadatannya. Upaya ini dapat mengurangi asumsi bahwa bulu babi hanya sebagai sampah yang tidak berguna di pesisir pantai.Di beberapa daerah di Indonesia seperti Kepulauan Raja Ampat, pertumbuhan bulu babi sangat cepat, karena kondisi lautnya yang masih alami, belum tercemar oleh limbah industri dan limbah rumah tangga. Di sini hampir semua habitat terumbu karang dihuni bulu babi. Hewan ini hidup sebagai bentik di terumbu karang dan padang lamun (seagrass). Bulu babi juga menyukai tempat yang kotor. Realita ini pula mengesankan bahwa populasi bulu babi sebagai sampah yang mengotori pesisir pantai.

Di Indonesia bulu babi belum dimanfaatkan secara optimal, baru sebagian orang yang sudah memanfaatkannya sebagai sumber pendapatan dan konsumsi harian. Di negara maju, hewan ini menjadi salah satu komoditas laut yang cukup menjanjikan. Di beberapa negara Mediterania, New Zaeland, dan Amerika Utara, bulu babi dikonsumsi mentah sebagai lauk. Di Jepang, bulu babi populer sebagai pelengkap kuliner sushi dan sashimi.Jika dibandingkan dengan potensi laut Indonesia, maka seharusnya bulu babi tak dianggap sebagai sampah, melainkan dapat meningkatkan pendapatan dan gizi masyarakat kita.Kelimpahan bulu babi di terumbu karang dan padang lamun, tidak hanya sebagai sampah pesisir, tetapi berguna bagi masyarakat pesisir jika dalam kehidupan sehari-hari dapat dimanfaatkan sebagai bahan makanan dan obat-obatan.

Bagian bulu babi yang dikonsumsi adalah gonadnya, sedangkan duri nya sebagai bahan obat dan perhiasan. Komposisi senyawa gonad bulu babi cukup bergizi untuk dikonsumsi. Gonadnya dapat dikonsumsi sebagai obat untuk beberapa jenis penyakit seperti mereduksi kolesterol dalam darah, menurunkan tekanan darah, memperbaiki sistem metabolisme, dan menambah vitalitas. Selain gonad, cangkangnya dapat diolah menjadi tepung campuran pakan ternak, bahan kerajinan, dan pupuk organik. Bulu babi yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi yaitu jenis D. setosum, karena hampir semua bagian tubuhnya dapat dimanfaatkan, gonadnya dapat dikonsumsi, dan durinya dapat digunakan sebagai bahan obat. Di balik durinya yang beracun, D. setosum mengandung senyawa aktif berupa polihidroksi dan apelasterosida A dan B yang dapat dimanfaatkan sebagai obat (Aprillia dkk. 2012) .

Jenis bulu babi yang banyak di ambil gonadnya oleh masyarakat pesisir adalah jenis T. gratilla yang hidup di padang lamun, bulu babi ini diambil pada saat air laut surut, dikumpulkan dengan keranjang oleh ibu-ibu rumah tangga kemudian cangkangnya dibuka dan diambil gonadnya.Bulu babi difungsikan sebagai bioindikator pencemaran laut, hewan ini memiliki sensivitas tinggi terhadap logam berat. Bulu babi selama ini yang dijadikan sebagai bioindikator pencemaran laut adalah D. antillarum yang banyak di jumpai di sekitar dermaga dan pantai berkarang. Keberadaannya yang melimpah menunjukkan bahwa laut sudah tercemar.

Di negara maju seperti Amerika Serikat dan Jepang, masyarakatnya telah biasa menerapkan pola makan dengan memperhatikan kandungan nilai gizi dengan mengonsumsi gonad bulu babi. Gonad merupakan bahan makanan yang mempunyai nilai gizi tinggi dan memiliki kandungan asam amino yang lengkap, sehingga cocok untuk pertumbuhan dan kesehatan manusia. Sebaliknya masyarakat Indonesai pada umumnya, dan khususnya masyarakat Raja Ampat belum memanfaatkan bulu babi sebagai bahan komoditas yang bernilai ekonomi, hanya sebatas bahan makan lauk pengganti ikan.

Masyarakat Indonesia belum menyadari bahwa bulu babi memiliki kandungan gizi yang tinggi seperti ikan, udang, kepiting, dan teripang, tetapi jika bulu babi dapat dimanfaatkan dengan baik, bisa menambah pundi-pundi keuangan bagi masyarakat pesisir dan nelayan. Budidaya bulu babi di Raja Ampat belum ada seperti di Kepulauan Seribu Jakarta, hal ini disebabkan masih tersedianya ikan laut yang melimpah sebagai mata pencaharian dan sebagai konsumsi harian diban dingkan dengan budidaya bulu babi.

Keberadaan bulu babi memang menakutkan bagi pencinta pantai dan penyelam, namun di sisi lain kerapatan populasinya dapat menambah keindahan pantai. Di Raja Ampat di hewan ini dianggap membahayakan penyelam, namun tetap dibiarkan hidup secara alami, yang berasosiasi dengan terumbu karang dan hewan invertebrata lainnya membentuk ekosistem laut yang indah. Di balik anggapan bahwa bulu babi hanya sebagai sampah pesisir yang tidak bermanfaat, masih mengandung gizi dan khasiat yang dapat menjadi berkah bagi masyarakat.
Perlu dilihat dan dikembangkan bulu babi untuk dibudidayakan di lokasi yang memungkinkan seperti Raja Ampat karena memiliki laut yang luas dan belum tercemar. Budidaya merupakan upaya untuk menjaga kelestarian dan menghasilkan bulu babi yang berkualitas []

Oleh; Tamrin Rumai, Soenarto Notosoedarmo , dan Jubhar C. Mangimbulude

About dhanang

Membuat ilmu kehidupan menjadi hidup lebih hidup

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Scroll To Top