Home / Biodiversitas / Si Cantik Yang Mengandung Racun Berbahaya (Conotoxin)
Si Cantik Yang Mengandung Racun Berbahaya (Conotoxin)
Berbagai jenis siput laut (searah putaran jarum jam) Conus textile, Conus marmerous, Conus litteratus, Conus textile, Conus miles, dan Conus virgo.

Si Cantik Yang Mengandung Racun Berbahaya (Conotoxin)

Berbagai jenis siput laut (searah putaran jarum jam) Conus textile, Conus marmerous, Conus litteratus, Conus textile, Conus miles, dan Conus virgo.

Berbagai jenis siput laut (searah putaran jarum jam) Conus textile, Conus marmerous, Conus litteratus, Conus textile, Conus miles, dan Conus virgo.

Semua orang yang tinggal di daerah pesisir pantai pasti sangat mengenal siput laut (Conus sp.). Hewan gastropoda ini memiliki berbagai macam motif yang menarik serta mempunyai bentuk yang indah dan menggemaskan. Oleh karena itu setiap orang yang melihatnya pasti ingin mengambil dan membawanya pulang. Namun dibalik corak-coraknya yang menarik, ada beberapa jenis siput laut yang memiliki sengatan beracun dan dapat berujung pada kematian. Di lautan juga terhampar beraneka macam kerang berwarna warni.

Conus sp. adalah salah satu spesies siput laut dari kelas Gastropoda dan filum Moluska yang banyak dijumpai diperairan Raja Ampat. Masyarakat Raja Ampat secara keseluruhan menyebut spesies ini dengan sebutan “Bia”, namun masing-masing daerah memiliki nama yang berbeda. Masyarakat Waigeo Barat dan Waigeo Selatan menyebutnya sebagai “Dermandira”, sedangkan untuk masyarakat Waigeo Utara menyebutnya sebagai “Imasi”.

Gambaran Morfologi dari Conus sp adalah hewan yang bertubuh lunak, umumnya berjalan dengan perut, memiliki kepala yang jelas, dan mempunyai satu atau dua mata pada ujung tentakel. Ciri khas Gastropoda adalah kaki yang melebar dan pipih untuk bergerak. Kaki tersebut dapat mengeluarkan lendir untuk memudahkan pergerakannya. Bentuk umum Conus sp menyerupai kerucut, bagian yang menyempit adalah bagian depan (anterior), sedangkan bagian yang melebar merupakan pangkal cangkang yang merupakan bagian belakang (posterior). Celah bibir (aperture) merupakan jalan keluar masuknya tubuh organisme pada saat mereka bergerak maupun menghindar dari bahaya. Conus sp. termasuk hewan pemangsa (predacious carnivora). Hidupnya di bawah bebatuan maupun koral atau membenamkan dirinya ke dalam pasir.

Mangsa alami Conus sp. adalah ikan-ikan yang berukuran kecil. Conus sp. hidup di daerah pasang surut yang tersebar mulai dari perairan tropis sampai subtropis. Conus sp. memiliki kandungan protein yang cukup tinggi dan cangkangnya mempunyai nilai estetika yang dapat digunakan untuk pembuatan kancing baju, berbagi bentuk kaligrafi dan berbagai kerajinan lainnya. Raja Ampat merupakan kabupaten peisisr, oleh karena itu sebagian besar masyarakatnya hidup di sekitar pantai dan sangat bergantung pada laut untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Sebagi contoh, disaat air surut masyarakat pergi kepantai untuk mengambil Conus sp. sebagai sumber makanan pengganti ikan.

Conus sp. adalah salah satu jenis siput laut yang dinilai berbahaya dan dapat mencelakai manusia antara lain dari suku Conidae. Jenis siput ini berbahaya karena mengandung bisa atau racun berbahaya jenis conotoxin yang dapat melumpuhkan bahkan dapat mematikan korbannya, termasuk manusia. Conotoxin adalah adalah salah satu senyawa beracun dari kelompok peptida neurotoxin yang diisolasi dari racun Gastropoda laut, Genus Conus; dan memiliki peran besar dalam proses pengobatan. Conotoxin merupakan senyawa peptida yang tersusun dari 10-30 residu asam amino dan biasanya memiliki satu atau lebih ikatan disulfida. Conotoxin pada Conus sp. biasanya tersimpan didalam sebuah kantong yang dapat digunakan untuk melumpuhkan dan membunuh mangsanya.

Akivitas biologi dari racun conotoxin yaitu:
1. Alpha-Conotoxin: Menghambat reseptor racun pada saraf dan otot
2. Mu-Conotoxin : Menghambat saluran natrium pada otot
3. Delta-Conotoxin: Menghambat aktivitas saluran natrium
4. Omega-Conotoxin: Memengaruhi saluran kalsium yang terkait dengan sistern saraf
5. Kappa-Conotoxin: Menghambat saluran kalium

6. Konantonkins : Memblokir impuls saraf

Oleh; Surmaningsih Kibas, Jubhar C. Mangimbulude, dan O. K. Radjasa

About dhanang

Membuat ilmu kehidupan menjadi hidup lebih hidup

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Scroll To Top