Home / Bios Cetak / Biofuel dari Alga Mikro

Biofuel dari Alga Mikro

yafeth222

Kelangkaan sumber energi fosil sebagai sumber bahan bakar bukan lagi menjadi isu baru untuk diperbincangkan. Selain sumber energinya tidak dapat diperbaharui, penggunaan bahan bakar fosil dalam keseharian ternyata member sumbangsih yang buruk bagi lingkungan. Untuk itulah penggunaan sumber energi alternatif yang ramah lingkungan sangat dianjurkan.

Beberapa tumbuhan terestrial seperti jagung, kanola, jarak dan kedelai telah dimanfaatkan untuk menjadi biofuel yakni jenis bahan bakar yang ramah lingkungan. Tanggapan positif  pun berhasil diraih karena selama penggunaan biofuel dari emisi gas rumah kaca dapat diturunkan sekitar 14%. Namun masalah kemudian yang muncul adalah soal persaingan peruntukan lahan dengan tanaman pangan lainnya. Selain itu, kebutuhan bahan bakar yang kian tinggi membuat bahan-bahan tersebut diatas sudah tidak lagi mempuni untuk kebutuhan energi masa depan. Salah satu bahan yang menjadi objek penelitian sebagai sumber biofuel adalah organisme-organisme dari kelompok alga. Alga pertama kali dieksplorasi sebagai bahan bakar alternatif pada tahun 1978 di Amerika, saat harga bahan bakar gas melambung tinggi.

Alga merupakan organisme lingkungan perairan yang menggunakan cahaya dan karbon dioksida untuk memproduksi biomasa. Alga dikelompokan menjadi dua bagian berdasarkan ukuran yakni alga makro dan alga mikro. Pemanfaatan alga yang paling efisien adalah pemanfaatan minyaknya untuk menghasilkan biofuel. Beberapa jenis alga bahkan menghasilkan gas hidrogen jika dikondisikan tumbh dalam kondisi tertentu. Biomassa dari alga dapat juga dibakar, mirip dengan kayu, untuk menghasilkan panas dan listrik.

Biomassa alga terdiri dari tiga komponen utama antara lain karbohidrat, protein dan lipid (minyak alami). Alga mikro tumbuh sangat cepat dibandingkan dengan tanaman terestrial. Alga umumnya tumbuh dua kali lebih besar dari ukuran sebelumnya setiap 24 jam. Selama puncak fase pertumbuhan, beberapa alga mikro dapat berlipat ganda setiap 3,5 jam. Kandungan minyak dari alga mikro biasanya antara 20% dan 50% (berat kering, tabel 1), kemudian beberapa strain dapat mencapai setinggi 80%. Produksi ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan minyak yang dihasilkan berbagai tanaman terrestrial yang hanya mengandung maksimal sekitar 5% berat kering minyak dari alga mikro.

 

Tabel 1. Kandungan Minyak dalam Beberapa Organisme Alga Mikro

 

Alga Mikro

Kandungan Minyak

(% Berat Kering)

Botryococcus braunii

25 – 75

Chlorella sp.

28 – 32

Crypthecodinium cohnii

20

Cylindrotheca sp.

16 – 37

Nitzschia sp.

45 – 47

Phaeodactylum tricornutum

20 – 30

Schizochytrium sp.

50 – 77

Tetraselmis suecia

15 – 23

 

Produksi biofuel menggunakan pertanian alga mikro menawarkan keuntungan sebagai berikut:

  1. Tingkat pertumbuhan yang tinggi dari alga mikro memungkinkan untuk memenuhi permintaan besar pada biofuel menggunakan sumber daya yang terbatas lahan tanpa menyebabkan defisit potensi biomassa.
  2. Budidaya alga mikro mengkonsumsi air kurang dari lahan tanaman pangan.
  3. Toleransi alga mikro terhadap lingkungan dengan kadar CO2 yang tinggi.
  4. Pelepasan gas Nitrous oksida dapat diperkecil ketika alga mikro yang digunakan untuk produksi biofuel.

Biaya produksi minyak alga tergantung pada banyak faktor, seperti hasil biomassa dari sistem budaya, kandungan minyak, skala sistem produksi, dan biaya pemulihan minyak dari biomassa alga. Saat ini, produksi minyak alga masih jauh lebih mahal daripada bahan bakar minyak diesel. Namun demikian, masalah ini diharapkan dapat diatasi atau diminimalkan dengan pengembangan teknologi. Mengingat potensi besar mikroalga sebagai produsen primer yang paling efisien. Biofuel dari alga adalah kandidat yang ideal biofuel yang akhirnya bisa menggantikan bahan bakar berbasis minyak bumi karena beberapa keunggulan, seperti konten minyak yang tinggi, produksi tinggi, lahan yang kurang, dan sebagainya. Saat ini, produksi alga biofuel masih terlalu mahal untuk dikomersialkan. Karena biaya statis yang terkait dengan ekstraksi minyak dan biodiesel.

 

Bibliografi

Chisti, Y. 2007. Biodiesel from Microalgae. Biotechnology Advances 25: 294 – 306.

About dhanang

Membuat ilmu kehidupan menjadi hidup lebih hidup

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Scroll To Top